Lompat ke isi

Vampir

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lukisan hitam putih yang menampilkan seorang pria berbaring di atas meja, sementara seorang wanita berlutut di atasnya.
The Vampire, karya Philip Burne-Jones, 1897

Vampir adalah makhluk mitis yang mempertahankan eksistensinya dengan mengonsumsi intisari kehidupan (umumnya berupa darah) dari makhluk hidup. Dalam cerita rakyat Eropa, vampir adalah makhluk menyerupai manusia yang bangkit dari kematian yang kerap menyambangi orang-orang terkasih dan menyebabkan kekacauan atau kematian di lingkungan tempat mereka bermukim semasa hidupnya. Mereka mengenakan kain kafan dan sering digambarkan dengan tubuh yang menggembung serta raut wajah kemerahan atau gelap, sangat kontras dengan gambaran vampir masa kini yang kurus kering dan pucat, yang baru muncul pada awal abad ke-19.

Entitas menyerupai vampir telah tercatat dalam berbagai budaya di seluruh dunia; namun, istilah vampir baru dipopulerkan di Eropa Barat menyusul laporan mengenai histeria massal pada abad ke-18 yang bersumber dari kepercayaan rakyat yang telah ada sebelumnya di Eropa Tenggara dan Eropa Timur. Waham ini, dalam kasus-kasus tertentu, berujung tidak hanya pada tuduhan vampirisme terhadap seseorang, tetapi juga pada tindakan penghunjaman pasak ke tubuh mayat yang dicurigai sebagai vampir.[1] Varian lokal di Eropa Tenggara juga dikenal dengan berbagai nama, seperti shtriga di Albania, vrykolakas di Yunani, dan strigoi di Rumania, yang seakar dengan kata strega dalam bahasa Italia yang berarti 'penyihir'.

Pada masa modern, vampir umumnya dianggap sebagai entitas fiktif, meskipun kepercayaan terhadap makhluk serupa vampir (seperti chupacabra) masih bertahan dalam beberapa kebudayaan. Kepercayaan rakyat terdahulu mengenai vampir terkadang dikaitkan dengan ketidaktahuan akan proses dekomposisi tubuh pascakematian dan bagaimana masyarakat pra-industri berupaya merasionalisasinya, sehingga menciptakan sosok vampir demi menjelaskan misteri kematian tersebut. Porfiria sempat dikaitkan dengan legenda vampirisme pada tahun 1985 dan mendapat sorotan luas media, tetapi teori ini kemudian banyak dibantah.[2]

Sosok vampir yang karismatik dan elegan dalam fiksi modern lahir pada tahun 1819 melalui penerbitan "The Vampyre" karya penulis Inggris John Polidori; kisah tersebut menuai kesuksesan besar dan dapat dikatakan sebagai karya bertema vampir yang paling berpengaruh pada awal abad ke-19. Novel Dracula karya Bram Stoker tahun 1897 dikenang sebagai novel vampir yang paling esensial dan menjadi landasan bagi legenda vampir modern, meskipun diterbitkan setelah novel Carmilla tahun 1872 karya sesama penulis Irlandia, Joseph Sheridan Le Fanu. Kesuksesan buku ini memicu lahirnya genre vampir tersendiri yang masih populer hingga abad ke-21, meliputi buku, film, acara televisi, dan permainan video. Semenjak itu, vampir telah menjadi sosok dominan dalam genre horor.

Etimologi dan persebaran kata

[sunting | sunting sumber]

Etimologi persisnya masih samar.[3][4] Istilah "vampir" menemukan catatan paling awalnya dalam bahasa Inggris, Latin, dan Prancis, sementara rujukan mengenai vampirisme ditemukan di Rusia, Polandia, dan Makedonia Utara.[5] Istilah dalam bahasa Inggris diturunkan (kemungkinan melalui bahasa Prancis vampyre) dari bahasa Jerman Vampir, yang pada gilirannya diturunkan pada awal abad ke-18 dari bahasa Serbia вампир (vampir).[6][7][8] Kendati ini merupakan penjelasan yang populer, perlu dicatat bahwa pemujaan pagan terhadap upyri telah tercatat dalam bahasa Rusia Kuno pada abad ke-11 hingga ke-13.[9][10] Beberapa pihak mengklaim asal-usul dari bahasa Lituania.[11][12] Oxford dan sumber-sumber lain[13] berpendapat adanya asal-usul Turki (dari bahasa Turki uber, yang berarti "penyihir"[13]), yang masuk ke bahasa Inggris melalui derivasi Hungaria dan Prancis.[14][15] Akan tetapi, hampir diterima secara universal bahwa kata modern "vampir" berasal dari bentuk bahasa Slavia Kuno[13] "онпыр (onpyr)", dengan penambahan bunyi "v" di depan vokal sengau besar (on), yang merupakan ciri khas bahasa Bulgaria Kuno.[16][17] Bentuk paralel ditemukan di hampir semua bahasa Slavia dan Turk: bahasa Bulgaria dan Makedonia вампир (vampir), bahasa Turki: Ubır, Obur, Obır, bahasa Tatar: Убыр (Ubır), bahasa Chuvash: Вупăр (Vupăr), bahasa Bosnia: вампир (vampir), bahasa Kroasia vampir, bahasa Ceko dan bahasa Slowakia upír, bahasa Polandia wąpierz, dan (mungkin dipengaruhi Slavia Timur) upiór, bahasa Ukraina упир (upyr), bahasa Rusia упырь (upyr'), bahasa Belarus упыр (upyr), dari bahasa Slavia Timur Kuno упирь (upir') (banyak dari bahasa-bahasa ini juga telah meminjam bentuk seperti "vampir/wampir" di kemudian hari dari Barat; bentuk-bentuk ini berbeda dari kata-kata lokal asli untuk makhluk tersebut). Dalam bahasa Albania, kata lu(v)gat dan dhampir digunakan; kata yang disebut terakhir tampaknya diturunkan dari kata dalam bahasa Albania Gheg dham 'gigi' dan pir 'minum'.[4][18] Asal-usul kata modern Vampir (Upiór berarti hortdan, vampir, atau penyihir dalam mitos Turk dan Slavia) berasal dari istilah Ubir-Upiór, yang mana asal mula kata Ubir atau Upiór berakar pada wilayah di sekitar Sungai Volga (Itil) dan Stepa Pontus. Mitos Upiór diduga menyebar melalui migrasi orang-orang Kipchak-Cuman ke stepa Eurasia. Format dalam bahasa Bulgaria adalah впир (vpir, nama lain: onpyr, vopir, vpir, upir, upierz).[16][17]

Ahli bahasa Ceko Václav Machek mengajukan kata kerja bahasa Slowakia vrepiť sa 'menempel, menghunjam ke dalam', atau anagram hipotetisnya vperiť sa (dalam bahasa Ceko, kata kerja arkais vpeřit berarti 'menghunjam dengan keras') sebagai latar belakang etimologisnya, dan dengan demikian menerjemahkan upír sebagai 'seseorang yang menghunjam, menggigit'.[19] Istilah tersebut diperkenalkan kepada pembaca Jerman oleh imam Yesuit Polandia Gabriel Rzączyński pada tahun 1721.[13]

Kata vampire (sebagai vampyre) pertama kali muncul dalam bahasa Inggris pada tahun 1732, dalam laporan berita mengenai "wabah" vampir di Eropa timur.[20][a] Setelah Austria menguasai Serbia bagian utara dan Oltenia melalui Perjanjian Passarowitz pada tahun 1718, para pejabat mencatat adanya praktik lokal berupa penggalian kembali jenazah dan "pembunuhan vampir".[22] Laporan-laporan ini, yang dibuat antara tahun 1725 dan 1732, mendapat publikasi luas.[22][23]

Kepercayaan rakyat

[sunting | sunting sumber]

Gagasan mengenai vampirisme telah ada selama ribuan tahun.[butuh rujukan] Kebudayaan-kebudayaan seperti Mesopotamia, Ibrani, Yunani Kuno, Manipuri, dan Romawi memiliki kisah-kisah tentang iblis dan roh yang dianggap sebagai pendahulu bagi vampir modern.[butuh rujukan] Kendati makhluk-makhluk vampirik muncul dalam peradaban-peradaban kuno ini, cerita rakyat mengenai entitas yang kini dikenal sebagai vampir hampir secara eksklusif bermula dari Eropa Tenggara pada awal abad ke-18,[24] ketika tradisi lisan dari banyak kelompok etnis di wilayah tersebut dicatat dan diterbitkan. Dalam sebagian besar kasus, vampir adalah mayat hidup dari makhluk jahat, korban bunuh diri, atau penyihir, tetapi mereka juga dapat tercipta akibat roh jahat yang merasuk ke dalam mayat atau akibat gigitan vampir. Kepercayaan akan legenda semacam itu menjadi begitu meluas hingga di beberapa daerah menyebabkan histeria massal dan bahkan eksekusi publik terhadap orang-orang yang diyakini sebagai vampir.[25]

Deskripsi dan atribut umum

[sunting | sunting sumber]
Lukisan seorang wanita berambut merah.
Vampire (1895) karya Edvard Munch

Sulit untuk membuat satu deskripsi yang definitif mengenai vampir dalam cerita rakyat, meskipun terdapat beberapa elemen yang umum ditemukan dalam banyak legenda Eropa. Vampir biasanya dilaporkan memiliki penampilan yang bengkak, dan berwarna kemerahan, keunguan, atau gelap; karakteristik ini sering kali dikaitkan dengan aktivitas meminum darah yang baru saja dilakukan, yang kerap terlihat merembes dari mulut dan hidung ketika sosok tersebut dilihat di dalam kain kafan atau peti matinya, dan mata kirinya sering kali terbuka.[26] Ia biasanya berbalut kain kafan linen yang dikenakan saat dimakamkan, serta gigi, rambut, dan kukunya mungkin tumbuh sedikit, meskipun pada umumnya taring bukanlah ciri khasnya.[27] Suara-suara mengunyah dilaporkan terdengar dari dalam kuburan.[28]

Penciptaan vampir

[sunting | sunting sumber]
Gambar seorang wanita mencium pria bersayap.
Ilustrasi vampir dari Une Semaine de Bonté (1934) karya Max Ernst

Penyebab munculnya vampir sangat banyak dan beragam dalam cerita rakyat aslinya. Dalam cerita rakyat Slavia dan tradisi Tionghoa, setiap mayat yang dilompati oleh hewan, khususnya anjing atau kucing, dikhawatirkan akan menjadi mayat hidup.[29] Tubuh dengan luka yang tidak dibasuh dengan air mendidih juga berisiko. Dalam cerita rakyat Rusia, vampir konon dulunya adalah penyihir atau orang-orang yang memberontak terhadap Gereja Ortodoks Rusia semasa hidupnya.[30]

Dalam cerita rakyat Albania, dhampir adalah anak hibrida dari karkanxholl (makhluk likantropi yang mengenakan baju zirah rantai besi) atau lugat (hantu atau monster yang tinggal di air). Dhampir yang lahir dari karkanxholl memiliki kemampuan unik untuk mengenali karkanxholl; dari sinilah muncul ungkapan dhampir mengetahui lugat. Lugat tidak dapat dilihat, ia hanya dapat dibunuh oleh dhampir, yang biasanya merupakan anak dari lugat itu sendiri. Di berbagai wilayah, hewan dapat menjadi revenant sebagai lugat; demikian pula orang hidup saat sedang tidur. Dhampiraj juga merupakan nama keluarga Albania.[31]

Pencegahan

[sunting | sunting sumber]

Praktik budaya sering kali muncul dengan tujuan mencegah orang terkasih yang baru saja meninggal berubah menjadi mayat hidup. Mengubur mayat dalam posisi telungkup merupakan hal yang lazim, begitu pula menempatkan benda-benda duniawi, seperti kosa atau sabit,[32] di dekat kuburan untuk memuaskan iblis yang memasuki tubuh tersebut atau untuk menenangkan orang mati agar tidak ingin bangkit dari peti matinya. Metode ini menyerupai praktik Yunani Kuno yang menempatkan obolus di mulut mayat untuk membayar ongkos penyeberangan Sungai Styx di dunia bawah. Koin tersebut mungkin juga dimaksudkan untuk menangkal roh jahat agar tidak memasuki tubuh, dan hal ini mungkin telah memengaruhi cerita rakyat vampir di kemudian hari. Tradisi ini bertahan dalam cerita rakyat Yunani modern mengenai vrykolakas, yang mana salib lilin dan pecahan tembikar bertuliskan "Yesus Kristus menang" diletakkan di atas mayat untuk mencegah tubuh tersebut menjadi vampir.[33]

Metode lain yang umum dipraktikkan di Eropa meliputi pemutusan tendon di lutut atau menaburkan biji poppy, jewawut, atau pasir di tanah makam orang yang diduga vampir; hal ini dimaksudkan untuk menyibukkan vampir sepanjang malam dengan menghitung butiran yang jatuh,[34][35] yang mengindikasikan adanya kaitan antara vampir dengan aritmomania. Narasi serupa di Tiongkok menyatakan bahwa jika makhluk vampirik menemukan sekarung beras, ia harus menghitung setiap butirnya; ini adalah tema yang ditemui dalam mitos dari anak benua India, serta dalam kisah-kisah Amerika Selatan mengenai penyihir dan jenis roh atau makhluk jahat maupun perusuh lainnya.[36]

Mengidentifikasi vampir

[sunting | sunting sumber]

Banyak ritual yang digunakan untuk mengidentifikasi vampir. Salah satu metode untuk menemukan makam vampir melibatkan tindakan menuntun seorang anak laki-laki perjaka melintasi kuburan atau pekarangan gereja dengan menunggangi kuda jantan yang belum pernah kawin—kuda tersebut konon akan mogok mendadak di depan makam yang dicurigai.[30] Umumnya diperlukan kuda berwarna hitam, meskipun di Albania kuda tersebut harus berwarna putih.[37] Lubang-lubang yang muncul di tanah di atas kuburan juga dianggap sebagai tanda vampirisme.[38]

Mayat yang diduga sebagai vampir umumnya digambarkan memiliki penampilan yang lebih sehat daripada yang diperkirakan, tampak berisi, dan menunjukkan sedikit atau tanpa tanda-tanda pembusukan.[39] Dalam beberapa kasus, ketika makam yang dicurigai dibuka, penduduk desa bahkan menggambarkan mayat tersebut memiliki darah segar dari korban di seluruh wajahnya.[40] Bukti bahwa vampir aktif di suatu wilayah tertentu meliputi kematian ternak, domba, kerabat, atau tetangga. Vampir dalam cerita rakyat juga dapat menunjukkan kehadiran mereka dengan melakukan aktivitas ringan ala poltergeist, seperti melempar batu ke atap atau memindahkan perabot rumah tangga,[41] serta menindih orang saat sedang tidur.[42]

Perlindungan

[sunting | sunting sumber]
Bawang putih, Alkitab, salib, rosario, air suci, dan cermin semuanya telah terlihat dalam berbagai tradisi cerita rakyat sebagai sarana untuk menangkal atau mengidentifikasi vampir.[43][44]

Penolak bala—benda-benda yang mampu menangkal mayat hidup—umum ditemukan dalam cerita rakyat vampir. Bawang putih adalah contoh yang lazim;[45] sebatang mawar liar dan hawthorn terkadang dikaitkan dengan upaya melukai vampir, dan di Eropa, biji sesawi ditaburkan di atap rumah untuk menjauhkan mereka.[46] Penolak bala lainnya meliputi benda-benda suci, seperti salib, rosario, atau air suci. Beberapa cerita rakyat juga menyatakan bahwa vampir tidak dapat berjalan di atas tanah yang disucikan, seperti gereja atau kuil, atau menyeberangi air yang mengalir.[44]

Meskipun secara tradisional tidak dianggap sebagai penolak bala, cermin telah digunakan untuk menangkal vampir ketika ditempatkan menghadap ke luar di pintu (dalam beberapa budaya, vampir tidak memiliki bayangan cermin dan terkadang tidak memiliki bayangan tubuh, mungkin sebagai manifestasi dari ketiadaan jiwa pada vampir atau kelemahan mereka terhadap perak).[47] Atribut ini tidak universal (vrykolakas/tympanios Yunani mampu memiliki bayangan cermin maupun bayangan tubuh), tetapi digunakan oleh Bram Stoker dalam Dracula dan tetap populer di kalangan penulis dan sineas sesudahnya.[48]

Beberapa tradisi juga meyakini bahwa vampir tidak dapat memasuki rumah kecuali diundang oleh pemiliknya; setelah undangan pertama, mereka dapat keluar masuk sesuka hati.[47] Walaupun vampir dalam cerita rakyat diyakini lebih aktif pada malam hari, mereka umumnya tidak dianggap rentan terhadap cahaya matahari.[48]

Laporan pada tahun 1693 dan 1694 mengenai penampakan vampir di Polandia dan Rusia mengklaim bahwa ketika makam vampir dikenali, memakan roti yang dipanggang dengan campuran darah mayat tersebut ke dalam tepungnya,[49] atau sekadar meminum darahnya, memberikan kemungkinan perlindungan. Kisah-kisah lain (terutama kasus Arnold Paole) mengklaim bahwa memakan tanah dari kuburan vampir akan memberikan efek yang sama.[50]

Metode pemusnahan

[sunting | sunting sumber]
Lihat keterangan
Sebuah batu rune dengan cetakan mantra untuk menahan almarhum di dalam kuburnya[51]

Metode untuk memusnahkan mayat yang dicurigai sebagai vampir bervariasi, dengan menghunjamkan pasak sebagai metode yang paling sering disebut, khususnya dalam budaya Slavia Selatan.[52] Ash adalah kayu pilihan di Rusia dan negara-negara Baltik,[53][halaman dibutuhkan]  atau hawthorn di Serbia,[54] dengan catatan penggunaan kayu ek di Silesia.[55][56] Aspen juga digunakan untuk pasak, karena diyakini bahwa salib Kristus terbuat dari aspen (ranting aspen di atas makam yang diduga vampir juga diyakini dapat mencegah kebangkitan mereka di malam hari).[57] Calon vampir paling sering dipasak tepat di jantung, meskipun mulut menjadi sasaran di Rusia dan Jerman utara[58][59][halaman dibutuhkan] dan perut di Serbia timur laut.[60] Menusuk kulit dada adalah cara untuk "mengempiskan" vampir yang menggembung. Ini mirip dengan praktik "penguburan anti-vampir": mengubur benda tajam, seperti sabit, bersama mayat, sehingga benda tersebut dapat menembus kulit jika tubuh menggembung cukup besar saat bertransformasi menjadi mayat hidup.[61]

Pemenggalan kepala adalah metode pilihan di wilayah Jerman dan Slavia barat, dengan kepala dikubur di antara kedua kaki, di belakang bokong atau jauh dari tubuh.[52] Tindakan ini dipandang sebagai cara untuk mempercepat kepergian jiwa, yang dalam beberapa budaya dikatakan masih bersemayam di dalam mayat. Kepala, tubuh, atau pakaian vampir juga dapat dipaku dan dipasak ke tanah untuk mencegah kebangkitan.[62]

Lihat keterangan
Kerangka berusia 800 tahun yang ditemukan di Bulgaria ditikam di bagian dada dengan batang besi[63]

Orang Rom menancapkan jarum baja atau besi ke jantung mayat dan menempatkan serpihan baja di mulut, di atas mata, telinga, dan di antara jari-jari saat pemakaman. Mereka juga menaruh hawthorn di kaus kaki mayat atau menancapkan pasak hawthorn melalui kakinya. Dalam sebuah pemakaman abad ke-16 di dekat Venesia, batu bata yang dipaksakan masuk ke mulut mayat wanita telah ditafsirkan sebagai ritual pembunuhan vampir oleh para arkeolog yang menemukannya pada tahun 2006.[64] Di Bulgaria, lebih dari 100 kerangka dengan benda logam, seperti mata bajak, yang tertanam di bagian torso telah ditemukan.[63]

Langkah lebih lanjut meliputi menyiramkan air mendidih ke atas makam atau pembakaran tubuh secara menyeluruh. Di Eropa Tenggara, vampir juga dapat dibunuh dengan ditembak atau ditenggelamkan, dengan mengulangi layanan pemakaman, dengan memercikkan air suci ke tubuh, atau melalui eksorsisme. Di Rumania dan Armenia,[65] bawang putih dapat diletakkan di mulut, dan baru pada abad ke-19, tindakan pencegahan dengan menembakkan peluru menembus peti mati dilakukan. Untuk kasus yang kebal, tubuh akan dimutilasi dan potongan-potongannya dibakar, dicampur dengan air, dan diberikan kepada anggota keluarga sebagai obat. Di wilayah Saxon di Jerman, sebuah lemon ditempatkan di mulut mayat yang dicurigai sebagai vampir.[66]

Kepercayaan kuno

[sunting | sunting sumber]
Lukisan seorang wanita telanjang dengan ular yang melilit tubuhnya.
Lilith, 1887 karya John Collier. Kisah-kisah Lilith melukiskannya sebagai iblis peminum darah.

Kisah mengenai makhluk supranatural yang mengonsumsi darah atau daging makhluk hidup telah ditemukan di hampir setiap kebudayaan di seluruh dunia selama berabad-abad.[67] Istilah vampir belum ada pada zaman kuno. Aktivitas meminum darah dan kegiatan serupa dikaitkan dengan iblis atau roh yang memakan daging dan meminum darah; bahkan setan dianggap sinonim dengan vampir.[68] Hampir setiap budaya mengasosiasikan meminum darah dengan sejenis mayat hidup atau iblis, atau dalam beberapa kasus, dewa. Di India, kisah-kisah mengenai vetala, makhluk seperti hantu yang menghuni mayat, telah dihimpun dalam Baitāl Pacīsī; sebuah kisah terkemuka dalam Kathāsaritsāgara menceritakan tentang Raja Vikramāditya dan pencarian malamnya untuk menangkap sosok yang sulit ditangkap tersebut.[69] Piśāca, roh orang jahat yang kembali atau mereka yang mati dalam keadaan gila, juga memiliki atribut vampirik.[70]

Bangsa Persia adalah salah satu peradaban pertama yang memiliki kisah tentang iblis peminum darah: makhluk yang mencoba meminum darah manusia digambarkan pada pecahan tembikar yang telah diekskavasi.[71] Babilonia dan Asiria Kuno memiliki kisah tentang mitos Lilitu,[72] yang bersinonim dengan dan memunculkan sosok Lilith (bahasa Ibrani לילית) serta putri-putrinya, Lilu, dari demonologi Ibrani. Lilitu dianggap sebagai iblis dan sering digambarkan hidup dari darah bayi,[72] dan estries, iblis wanita peminum darah yang dapat berubah wujud, konon berkeliaran di malam hari di tengah penduduk untuk mencari korban bayi. Menurut Sefer Hasidim, estries adalah makhluk yang diciptakan pada jam-jam senja sebelum Tuhan beristirahat. Seorang estrie yang terluka dapat disembuhkan dengan memakan roti dan garam yang diberikan oleh penyerangnya.[73]

Mitologi Yunani-Romawi mendeskripsikan Empusae,[74] Lamia,[75] Mormo[76] dan striges. Seiring berjalannya waktu, dua istilah pertama menjadi kata umum untuk menggambarkan penyihir dan iblis secara berturut-turut. Empusa adalah putri dewi Hecate dan digambarkan sebagai makhluk iblis berkaki perunggu. Ia berpesta darah dengan mengubah wujud menjadi wanita muda dan merayu pria yang sedang tidur sebelum meminum darah mereka.[74] Lamia memangsa anak-anak kecil di tempat tidur mereka pada malam hari, mengisap darah mereka, seperti halnya gelloudes atau Gello.[75] Seperti Lamia, striges berpesta memangsa anak-anak, tetapi juga memangsa orang dewasa. Mereka digambarkan memiliki tubuh gagak atau burung secara umum, dan kemudian dimasukkan ke dalam mitologi Romawi sebagai strix, sejenis burung nokturnal yang memakan daging dan darah manusia.[77]

Dalam mitologi Turk, ubır adalah makhluk vampirik yang dicirikan oleh berbagai penggambaran regional. Menurut legenda, individu yang bergelimang dosa dan praktisi ilmu hitam berubah menjadi ubır setelah kematian mereka, mengambil wujud binatang di dalam kubur mereka. Ubır memiliki kemampuan untuk berubah wujud, mengambil bentuk manusia maupun berbagai hewan. Selain itu, mereka dapat merebut jiwa makhluk hidup dan mengendalikan tubuhnya. Seseorang yang didiami oleh vampir terus-menerus merasakan lapar, menjadi semakin agresif ketika tidak dapat menemukan makanan, dan akhirnya terpaksa meminum darah manusia.[78]

Cerita rakyat abad pertengahan dan Eropa selanjutnya

[sunting | sunting sumber]
Lihat keterangan
Litograf yang memperlihatkan penduduk kota membakar kerangka yang digali dari seseorang yang diduga vampir

Banyak mitos seputar vampir bermula pada periode abad pertengahan. Dengan kedatangan Kekristenan di Yunani, dan bagian lain Eropa, vampir "mulai mengambil karakteristik Kristen yang kental."[79] Seiring berbagai wilayah di benua tersebut berpindah keyakinan ke Kristen, vampir dipandang sebagai "orang mati yang mempertahankan semu kehidupan dan dapat meninggalkan kuburnya—mirip dengan cara Yesus bangkit setelah kematian dan pemakaman-Nya serta menampakkan diri di hadapan para pengikut-Nya."[79] Pada Abad Pertengahan, Gereja Kristen menafsir ulang vampir dari keberadaan cerita rakyat mereka sebelumnya menjadi antek-antek Setan, dan menggunakan alegori untuk menyampaikan doktrin kepada umat Kristen: "Sama seperti vampir mengambil roh pendosa ke dalam dirinya dengan meminum darahnya, demikian pula seorang Kristen yang saleh dengan meminum darah Kristus dapat mengambil roh ilahi ke dalam dirinya."[80][81] Interpretasi mengenai vampir di bawah Gereja-Gereja Kristen menetapkan konotasi yang masih diasosiasikan dalam genre vampir hingga hari ini.[82] Sebagai contoh, "kemampuan salib untuk melukai dan menangkal vampir secara jelas disebabkan oleh asosiasi Kristiani-nya."[83][84]

Sejarawan dan penulis kronik Inggris abad ke-12 Walter Map dan William of Newburgh mencatat kisah-kisah mengenai revenant,[25][85] meskipun catatan dalam legenda Inggris mengenai makhluk vampirik setelah tanggal ini sangatlah langka.[86] draugr dari Norse Kuno adalah contoh abad pertengahan lainnya dari makhluk mayat hidup yang memiliki kemiripan dengan vampir.[87] Makhluk vampirik jarang ditulis dalam literatur Yahudi; rabi abad ke-16 David ben Solomon ibn Abi Zimra (Radbaz) menulis tentang seorang wanita tua yang tidak dermawan yang mayatnya tidak dijaga dan tidak dikubur selama tiga hari setelah dia meninggal dan bangkit sebagai entitas vampirik, membunuh ratusan orang. Dia mengaitkan peristiwa ini dengan ketiadaan shmirah (penjagaan) setelah kematian karena mayat tersebut dapat menjadi wadah bagi roh-roh jahat.[88]

Pada tahun 1645, pustakawan Yunani di Vatikan, Leo Allatius, menyusun deskripsi metodologis pertama tentang kepercayaan Balkan terhadap vampir (bahasa Yunani: vrykolakas) dalam karyanya De Graecorum hodie quorundam opinationibus ("Tentang pendapat-pendapat modern tertentu di kalangan orang Yunani").[89] Vampir yang benar-benar berasal dari cerita rakyat dilaporkan secara luas dari Eropa Timur pada akhir abad ke-17 dan ke-18. Kisah-kisah ini membentuk dasar legenda vampir yang kemudian masuk ke Jerman dan Inggris, tempat kisah-kisah tersebut kemudian diperindah dan dipopulerkan.[90] Sebuah catatan awal pada masa itu datang dari wilayah Istria di Kroasia modern, pada tahun 1672; Laporan lokal menggambarkan kepanikan di antara penduduk desa yang dipicu oleh kepercayaan bahwa Jure Grando telah menjadi vampir setelah meninggal pada tahun 1656, meminum darah para korban dan melecehkan jandanya secara seksual. Pemimpin desa memerintahkan agar pasak ditancapkan ke jantungnya. Kemudian, mayatnya juga dipenggal.[91]

Première page du Tractat von dem Kauen und Schmatzen der Todten in Gräbern (1734), ouvrage de vampirologie de Michael Ranft
Halaman judul risalah tentang mayat yang mengunyah dan mengecap di dalam kubur (1734), sebuah buku tentang vampirologi karya Michael Ranft

Sejak 1679, Philippe Rohr mendedikasikan sebuah esai untuk orang mati yang mengunyah kain kafan mereka di dalam kubur, sebuah subjek yang dilanjutkan oleh Otto pada tahun 1732, dan kemudian oleh Michael Ranft pada tahun 1734. Subjek ini didasarkan pada pengamatan bahwa ketika menggali kuburan, ditemukan bahwa beberapa mayat pada titik tertentu telah melahap kain bagian dalam peti mati mereka atau anggota tubuh mereka sendiri.[92] Ranft menjelaskan dalam risalahnya tentang sebuah tradisi di beberapa bagian Jerman, bahwa untuk mencegah orang mati mengunyah, mereka menempatkan gundukan tanah di bawah dagu mayat di dalam peti mati, menaruh sekeping uang dan batu di mulut, atau mengikat saputangan dengan kencang di sekitar leher.[93] Pada tahun 1732, seorang penulis anonim yang menulis sebagai "dokter Weimar" mendiskusikan ketidakbusukan makhluk-makhluk ini, dari sudut pandang teologis.[94] Pada tahun 1733, Johann Christoph Harenberg menulis risalah umum tentang vampirisme dan Marquis d'Argens mengutip kasus-kasus lokal. Para teolog dan klerus juga membahas topik ini.[92]

Beberapa sengketa teologis pun muncul. Ketidakbusukan tubuh vampir dapat mengingatkan pada ketidakbusukan tubuh para orang suci dari Gereja Katolik dan Ortodoks. Memang, vampir secara tradisional dianggap sangat problematis dalam Kekristenan, karena keberadaan abadi mereka yang kasatmata bertentangan dengan kepercayaan Kristen bahwa semua orang percaya sejati dapat menantikan kehidupan abadi dengan tubuh dan jiwa saat mereka dibangkitkan, tetapi hanya pada akhir zaman ketika Yesus kembali untuk menghakimi orang yang hidup dan yang mati. Mereka yang dibangkitkan sebagai makhluk abadi sebelum masa ini dengan demikian sama sekali bukan bagian dari rencana keselamatan ilahi. Keadaan tubuh vampir yang tidak sempurna dan bagaimana mereka, terlepas dari sifat abadi mereka, masih perlu meminum darah orang hidup, semakin mencerminkan aspek problematis dari vampir. Berlawanan dengan bagaimana orang-orang suci yang tidak membusuk menjadi bayangan akan keabadian yang dijanjikan kepada semua orang Kristen sejati pada akhir zaman, keabadian mayat hidup vampir dengan demikian bukanlah tanda keselamatan, melainkan kebinasaan.[95] Dimensi tidak suci dari vampirisme mungkin juga tercermin dalam bagaimana, di beberapa bagian Rusia, kata bidah, eretik, bersinonim dengan vampir. Siapa pun yang menyangkal Tuhan atau perintah-perintah-Nya menjadi eretik setelah kematiannya, sosok abadi yang tidak wajar yang berkeliaran di malam hari mencari orang untuk dimangsa.[96] Sebuah paragraf tentang vampir dimasukkan dalam edisi kedua (1749) dari De servorum Dei beatificatione et sanctorum canonizatione, Tentang beatifikasi hamba-hamba Allah dan tentang kanonisasi orang-orang yang diberkati, yang ditulis oleh Prospero Lambertini (Paus Benediktus XIV).[97] Menurut pendapatnya, sementara ketidakbusukan tubuh orang-orang suci adalah efek dari intervensi ilahi, semua fenomena yang dikaitkan dengan vampir adalah murni alami atau buah dari "imajinasi, teror, dan ketakutan". Dengan kata lain, vampir tidak ada.[98]

Kontroversi vampir abad ke-18

[sunting | sunting sumber]
Dom Augustine Calmet (1750)

Pada awal abad ke-18, meskipun kepercayaan cerita rakyat populer menurun selama Abad Pencerahan, terjadi peningkatan dramatis dalam kepercayaan populer terhadap vampir, yang mengakibatkan histeria massal di sebagian besar Eropa.[25] Kepanikan ini bermula dari wabah serangan yang didakwa dilakukan oleh vampir di Prusia Timur pada tahun 1721 dan di monarki Habsburg dari tahun 1725 hingga 1734, yang kemudian menyebar ke daerah-daerah lain. Kasus vampir terkenal yang pertama melibatkan mayat Petar Blagojević dari Serbia. Blagojević dilaporkan meninggal pada usia 62 tahun, tetapi diduga kembali setelah kematiannya untuk meminta makanan kepada putranya. Ketika putranya menolak, ia ditemukan tewas keesokan harinya. Blagojević konon kembali dan menyerang beberapa tetangga yang kemudian meninggal karena kehabisan darah.[90]

Dalam kasus kedua, Miloš Čečar, seorang mantan prajurit yang beralih menjadi petani yang diduga diserang oleh vampir bertahun-tahun sebelumnya, meninggal saat sedang memanen jerami. Setelah kematiannya, orang-orang di daerah sekitarnya mulai meninggal dunia; dipercaya secara luas bahwa Miloš telah kembali untuk memangsa para tetangga.[99][100]

Insiden Blagojević dan Čečar terdokumentasi dengan baik. Pejabat pemerintah memeriksa mayat-mayat tersebut, menulis laporan kasus, dan menerbitkan buku-buku di seluruh Eropa.[100] Masalah ini diperparah oleh wabah serangan vampir di pedesaan, yang tidak diragukan lagi disebabkan oleh tingginya tingkat takhayul di komunitas desa, dengan penduduk setempat yang menggali mayat dan dalam beberapa kasus, menancapkan pasak ke tubuh mayat tersebut.[101] Bahkan pejabat pemerintah pun turut terlibat dalam perburuan dan penyulaan vampir.[90]

Histeria ini, yang umum disebut sebagai "kontroversi vampir,"[102] berlanjut selama satu generasi. Setidaknya enam belas risalah kontemporer membahas implikasi teologis dan filosofis dari epidemi vampir ini.[103] Dom Augustine Calmet, seorang teolog dan cendekiawan Prancis, menerbitkan sebuah risalah komprehensif pada tahun 1751 berjudul Risalah tentang Penampakan Roh dan tentang Vampir atau Revenant yang menyelidiki dan menganalisis bukti-bukti vampirisme.[101][b] Banyak pembaca, termasuk Voltaire (yang kritis) dan sejumlah demonolog (yang mendukung), menafsirkan risalah tersebut sebagai klaim bahwa vampir itu nyata.[101][c]

Kontroversi di Austria berakhir ketika Permaisuri Maria Theresa mengirim dokter pribadinya, Gerard van Swieten, untuk menyelidiki klaim entitas vampirik tersebut. Van Swieten menyimpulkan bahwa vampir tidak ada dan Permaisuri mengesahkan undang-undang yang melarang pembongkaran kuburan dan penodaan jenazah, sehingga mengakhiri epidemi vampir. Negara-negara Eropa lainnya segera mengikuti langkah tersebut. Meskipun ada kecaman ini, vampir tetap hidup dalam karya seni dan cerita rakyat lokal.[101]

Kepercayaan non-Eropa

[sunting | sunting sumber]

Makhluk yang memiliki banyak atribut vampir Eropa muncul dalam cerita rakyat Afrika, Asia, Amerika Utara dan Selatan, serta India. Diklasifikasikan sebagai vampir, semuanya berbagi kehausan akan darah.[106]

Berbagai wilayah di Afrika memiliki cerita rakyat yang menampilkan makhluk dengan kemampuan vampirik: di Afrika Barat, suku Ashanti bercerita tentang asanbosam yang bergigi besi dan tinggal di pohon,[107] dan suku Ewe bercerita tentang adze, yang dapat mengambil wujud kunang-kunang dan memburu anak-anak.[108] Wilayah Cape timur memiliki impundulu, yang dapat mengambil wujud burung besar bercakar dan dapat memanggil guntur serta kilat, dan orang Betsileo di Madagaskar bercerita tentang ramanga, seorang penjahat atau vampir hidup yang meminum darah dan memakan potongan kuku para bangsawan.[109] Di Afrika Timur kolonial, rumor beredar yang menyatakan bahwa pegawai negara seperti pemadam kebakaran dan perawat adalah vampir, yang dikenal dalam bahasa Swahili sebagai wazimamoto.[110]

Rougarou merupakan contoh bagaimana kepercayaan terhadap vampir dapat terbentuk dari perpaduan berbagai keyakinan, dalam hal ini merupakan campuran antara Vodu Prancis dan Afrika atau voodoo. Istilah Rougarou kemungkinan berasal dari bahasa Prancis loup-garou (yang berarti "manusia serigala") dan umum ditemukan dalam budaya Mauritius. Kisah-kisah mengenai Rougarou tersebar luas di seluruh Kepulauan Karibia dan Louisiana di Amerika Serikat.[111] Monster wanita serupa lainnya adalah Soucouyant dari Trinidad, serta Tunda dan Patasola dalam cerita rakyat Kolombia, sementara suku Mapuche di Chili bagian selatan memiliki ular pengisap darah yang dikenal sebagai Peuchen.[112] Aloe vera yang digantung terbalik di belakang atau di dekat pintu dipercaya dapat menangkal makhluk vampirik dalam cerita rakyat Amerika Selatan.[36] Mitologi Aztek mendeskripsikan kisah-kisah tentang Cihuateteo, roh berwajah tengkorak dari wanita yang meninggal saat melahirkan; mereka mencuri anak-anak dan melakukan hubungan seksual dengan orang yang masih hidup, yang menyebabkan korbannya menjadi gila.[30]

Selama akhir abad ke-18 dan ke-19, kepercayaan terhadap vampir tersebar luas di beberapa bagian New England, khususnya di Rhode Island dan Connecticut bagian timur. Terdapat banyak kasus terdokumentasi mengenai keluarga yang menggali kembali makam orang-orang terkasih dan mengambil jantung mereka atas dasar kepercayaan bahwa almarhum adalah vampir yang bertanggung jawab atas penyakit dan kematian di dalam keluarga tersebut, meskipun istilah "vampir" tidak pernah digunakan untuk menyebut orang mati itu. Penyakit mematikan tuberkulosis, atau "consumption" (penggerogotan) sebagaimana penyakit itu dikenal pada masa itu, diyakini disebabkan oleh kunjungan malam hari dari anggota keluarga yang telah meninggal akibat penyakit yang sama.[113] Kasus dugaan vampirisme yang paling terkenal dan paling baru tercatat adalah kasus Mercy Brown yang berusia sembilan belas tahun, yang meninggal di Exeter, Rhode Island, pada tahun 1892. Ayahnya, dengan dibantu oleh dokter keluarga, mengeluarkan jenazahnya dari makam dua bulan setelah kematiannya, membedah jantungnya, dan membakarnya hingga menjadi abu.[114]

Sarah Roberts (1872–1913) adalah seorang wanita Inggris yang meninggal dan dimakamkan di Pisco, Peru. Pasca kematiannya, berkembang sebuah legenda bahwa ia adalah seorang vampir dan pengantin Dracula. Pada tanggal 9 Juni 1993, bertepatan dengan peringatan 80 tahun kematiannya, penduduk setempat di Pisco khawatir ia akan hidup kembali dan menuntut balas.[115]

Vampir telah muncul dalam sinema Jepang sejak akhir tahun 1950-an; namun cerita rakyat yang melatarbelakanginya berasal dari Barat.[116] Nukekubi adalah makhluk yang kepala dan lehernya dapat terlepas dari tubuhnya untuk terbang mencari mangsa manusia pada malam hari.[117] Legenda mengenai makhluk vampirik berwujud wanita yang dapat melepaskan bagian tubuh atasnya juga terdapat di Filipina, Malaysia, dan Indonesia. Terdapat dua makhluk vampirik utama di Filipina: Mandurugo ("pengisap darah") dari Tagalog dan Manananggal ("pemisah diri") dari Visayan. Mandurugo adalah varian dari aswang yang berwujud gadis menarik pada siang hari, dan menumbuhkan sayap serta lidah yang panjang, berongga, dan seperti benang pada malam hari. Lidah tersebut digunakan untuk mengisap darah dari korban yang sedang tidur.[118] Manananggal digambarkan sebagai wanita cantik yang lebih tua yang mampu memisahkan tubuh bagian atasnya untuk terbang ke malam hari dengan sayap besar menyerupai kelelawar dan memangsa wanita hamil yang sedang tidur tanpa curiga di rumah mereka. Mereka menggunakan lidah memanjang mirip probosis untuk mengisap janin dari wanita hamil tersebut. Mereka juga gemar memakan jeroan (khususnya jantung dan hati) serta dahak orang sakit.[118]

Penanggal dari Malaysia adalah seorang wanita yang memperoleh kecantikannya melalui penggunaan ilmu hitam secara aktif atau cara-cara tidak wajar lainnya, dan paling sering digambarkan dalam cerita rakyat setempat memiliki sifat gelap atau iblis. Ia mampu melepaskan kepalanya yang bertaring untuk terbang berkeliling di malam hari mencari darah, biasanya dari wanita hamil.[119] Orang Malaysia menggantung jeruju (tanaman berduri) di sekitar pintu dan jendela rumah, dengan harapan Penanggal tidak akan masuk karena takut ususnya tersangkut pada duri-duri tersebut.[120] Leyak adalah makhluk serupa dari cerita rakyat Bali di Indonesia.[121] Kuntilanak atau Matianak di Indonesia,[122] atau Pontianak atau Langsuir di Malaysia,[123] adalah seorang wanita yang meninggal saat melahirkan dan menjadi mayat hidup, menuntut balas dan meneror desa-desa. Ia menampakkan diri sebagai wanita menarik dengan rambut hitam panjang yang menutupi lubang di bagian belakang lehernya, yang digunakannya untuk mengisap darah anak-anak. Menyumbat lubang tersebut dengan rambutnya akan mengusirnya. Mulut mayat diisi dengan manik-manik kaca, telur di bawah setiap ketiak, dan jarum di telapak tangan mereka untuk mencegah mereka berubah menjadi langsuir. Deskripsi ini juga sesuai dengan Sundel bolong.[124]

Lihat keterangan
Rumah panggung khas etnis minoritas Tai Dam di Vietnam, yang komunitasnya konon diteror oleh pengisap darah ma cà rồng

Di Vietnam, kata yang digunakan untuk menerjemahkan vampir Barat, "ma cà rồng", pada mulanya merujuk pada sejenis iblis yang menghantui Provinsi Phú Thọ masa kini, di dalam komunitas etnis minoritas Tai Dam. Kata ini pertama kali disebutkan dalam kronik cendekiawan Konfusian abad ke-18 Lê Quý Đôn,[125] yang berbicara tentang makhluk yang hidup di antara manusia, tetapi menyumbatkan jari kakinya ke dalam lubang hidungnya pada malam hari dan terbang menggunakan telinganya ke rumah-rumah yang ditinggali wanita hamil untuk mengisap darah mereka. Setelah memangsa wanita-wanita ini, ma cà rồng kemudian kembali ke rumahnya dan membersihkan diri dengan mencelupkan jari kakinya ke dalam tong berisi air kayu secang. Hal ini memungkinkan ma cà rồng untuk hidup tanpa terdeteksi di antara manusia pada siang hari, sebelum keluar untuk menyerang lagi pada malam hari.[126]

Jiangshi, yang terkadang disebut "vampir Tiongkok" oleh orang Barat, adalah mayat bangkit yang melompat-lompat, membunuh makhluk hidup untuk menyerap intisari kehidupan () dari korbannya. Konon mereka tercipta ketika jiwa seseorang (魄 ) gagal meninggalkan tubuh almarhum.[127] Jiangshi biasanya digambarkan sebagai makhluk tanpa pikiran yang tidak memiliki pemikiran independen.[128] Monster ini memiliki kulit berbulu putih kehijauan, yang mungkin berasal dari jamur atau kapang yang tumbuh pada mayat.[129] Legenda Jiangshi telah mengilhami genre film jiangshi dan literatur di Hong Kong dan Asia Timur. Film-film seperti Encounters of the Spooky Kind dan Mr. Vampire dirilis selama masa kejayaan sinema jiangshi pada tahun 1980-an dan 1990-an.[130][131]

Kepercayaan modern

[sunting | sunting sumber]

Dalam fiksi modern, vampir cenderung digambarkan sebagai sosok penjahat yang necis dan karismatik.[27] Kelompok pemburu vampir masih ada, tetapi sebagian besar dibentuk karena alasan sosial.[25] Tuduhan serangan vampir melanda Malawi pada akhir tahun 2002 dan awal 2003, dengan massa yang melempari satu orang dengan batu hingga tewas dan menyerang setidaknya empat orang lainnya, termasuk Gubernur Eric Chiwaya, berdasarkan keyakinan bahwa pemerintah sedang bersekongkol dengan vampir.[132] Ketakutan dan kekerasan kembali terjadi pada akhir tahun 2017, dengan 6 orang yang dituduh sebagai vampir dibunuh.[133]

Seorang wanita memamerkan gigi bertaring.
Kostum vampir

Pada awal tahun 1970, pers lokal menyebarkan rumor bahwa sesosok vampir menghantui Pemakaman Highgate di London. Para pemburu vampir amatir berbondong-bondong dalam jumlah besar mendatangi pemakaman tersebut. Beberapa buku telah ditulis mengenai kasus ini, terutama oleh Sean Manchester, seorang pria lokal yang merupakan salah satu orang pertama yang mengemukakan keberadaan "Vampir Highgate" dan yang kemudian mengklaim telah mengusir dan memusnahkan seluruh sarang vampir di daerah tersebut.[134] Pada Januari 2005, beredar rumor bahwa seorang penyerang telah menggigit sejumlah orang di Birmingham, Inggris, memicu kekhawatiran tentang adanya vampir yang berkeliaran di jalanan. Polisi setempat menyatakan bahwa tidak ada kejahatan semacam itu yang dilaporkan dan kasus tersebut tampaknya merupakan sebuah legenda urban.[135]

Chupacabra ("pengisap kambing") dari Puerto Riko dan Meksiko konon merupakan makhluk yang memakan daging atau meminum darah hewan ternak, yang membuat sebagian orang menganggapnya sebagai sejenis vampir. "Histeria chupacabra" kerap dikaitkan dengan krisis ekonomi dan politik yang mendalam, terutama pada pertengahan tahun 1990-an.[136]

Di Eropa, tempat sebagian besar cerita rakyat vampir berasal, vampir biasanya dianggap sebagai makhluk fiktif; banyak komunitas mungkin telah merangkul konsep mayat hidup ini demi tujuan ekonomi. Dalam beberapa kasus, terutama di daerah-daerah kecil, kepercayaan ini masih merajalela dan penampakan atau klaim serangan vampir sering terjadi. Di Rumania pada bulan Februari 2004, beberapa kerabat Toma Petre takut bahwa ia telah menjadi vampir. Mereka menggali mayatnya, merobek jantungnya, membakarnya, dan mencampur abunya dengan air untuk diminum.[137]

Asal-usul kepercayaan vampir

[sunting | sunting sumber]

Para komentator telah mengajukan banyak teori mengenai asal-usul kepercayaan vampir dan histeria massal yang terkait. Segala hal mulai dari penguburan prematur hingga ketidaktahuan masa lampau mengenai siklus dekomposisi tubuh pascakematian telah dikutip sebagai penyebab kepercayaan terhadap vampir.[138]

Dekomposisi

[sunting | sunting sumber]

Penulis Paul Barber menyatakan bahwa kepercayaan terhadap vampir bermula dari upaya masyarakat pra-industri untuk menjelaskan proses kematian dan pembusukan yang alami, tetapi tidak dapat dijelaskan bagi mereka.[138] Orang-orang terkadang mencurigai adanya vampirisme ketika jenazah tidak terlihat seperti mayat normal dalam anggapan mereka saat digali kembali. Laju pembusukan bervariasi bergantung pada suhu dan komposisi tanah, dan banyak dari tanda-tandanya yang kurang diketahui. Hal ini menyebabkan para pemburu vampir secara keliru menyimpulkan bahwa mayat belum membusuk sama sekali atau menafsirkan tanda-tanda pembusukan sebagai tanda-tanda kehidupan yang berlanjut.[139]

Mayat membengkak seiring gas hasil pembusukan terakumulasi di dalam torso dan peningkatan tekanan memaksa darah merembes keluar dari hidung dan mulut. Hal ini menyebabkan tubuh terlihat "montok", "kenyang", dan "kemerahan"—perubahan-perubahan yang kian mencolok jika orang tersebut pucat atau kurus semasa hidupnya. Dalam kasus Arnold Paole, mayat seorang wanita tua yang digali kembali dinilai oleh para tetangganya terlihat lebih gemuk dan sehat daripada penampilannya semasa hidup.[140] Darah yang keluar memberikan kesan bahwa mayat tersebut baru saja melakukan aktivitas vampirik.[40] Penggelapan kulit juga disebabkan oleh pembusukan.[141] Penusukan pasak pada tubuh yang bengkak dan membusuk dapat menyebabkan tubuh mengeluarkan darah dan memaksa gas yang terakumulasi keluar dari tubuh. Hal ini dapat menghasilkan suara seperti rintihan ketika gas bergerak melewati pita suara, atau suara yang mengingatkan pada buang angin ketika gas tersebut melewati anus. Laporan resmi mengenai kasus Petar Blagojevich menyebutkan "tanda-tanda liar lainnya yang saya lewatkan karena rasa hormat yang tinggi".[142] Setelah kematian, kulit dan gusi kehilangan cairan dan menyusut, sehingga menampakkan akar rambut, kuku, dan gigi, bahkan gigi yang sebelumnya tersembunyi di rahang. Hal ini dapat menghasilkan ilusi bahwa rambut, kuku, dan gigi telah tumbuh. Pada tahap tertentu, kuku terlepas dan kulit mengelupas, sebagaimana dilaporkan dalam kasus Blagojevich—dermis dan bantalan kuku yang muncul di bawahnya ditafsirkan sebagai "kulit baru" dan "kuku baru".[142]

Penguburan prematur

[sunting | sunting sumber]

Legenda vampir mungkin turut dipengaruhi oleh kasus individu yang dikubur hidup-hidup akibat keterbatasan pengetahuan medis pada masa itu. Dalam beberapa kasus di mana masyarakat melaporkan adanya suara yang bersumber dari peti mati tertentu, peti tersebut kemudian digali kembali dan ditemukan bekas cakaran kuku di bagian dalamnya, yang menandakan upaya korban untuk meloloskan diri. Pada kasus lain, orang tersebut membenturkan kepala, hidung, atau wajah mereka sendiri hingga tampak seolah-olah mereka baru saja "memangsa".[143] Kelemahan teori ini terletak pada pertanyaan mengenai bagaimana orang-orang yang diduga dikubur hidup-hidup tersebut mampu bertahan hidup dalam jangka waktu lama tanpa makanan, air, atau udara segar. Penjelasan alternatif bagi suara-suara tersebut adalah bunyi gelembung gas yang lolos akibat proses pembusukan mayat secara alami.[144] Penyebab lain yang memungkinkan bagi kondisi makam yang acak-acakan adalah perampokan makam.[145]

Vampirisme dalam cerita rakyat telah dikaitkan dengan rentetan kematian akibat penyakit yang tidak teridentifikasi atau misterius, biasanya dalam satu keluarga atau komunitas kecil yang sama.[113] Alusi epidemi terlihat jelas dalam kasus-kasus klasik Petar Blagojevich dan Arnold Paole, dan bahkan lebih kentara lagi dalam kasus Mercy Brown serta dalam kepercayaan vampir di New England pada umumnya, yang mana suatu penyakit spesifik, yakni tuberkulosis, dikaitkan dengan mewabahnya vampirisme. Sebagaimana bentuk pneumonik dari pes, penyakit ini dikaitkan dengan kerusakan jaringan paru-paru yang menyebabkan darah muncul di bibir.[146]

Pada tahun 1985, ahli biokimia David Dolphin mengajukan adanya kaitan antara kelainan darah langka porfiria dengan cerita rakyat vampir. Mengingat bahwa kondisi tersebut ditangani dengan heme intravena, ia berpendapat bahwa konsumsi darah dalam jumlah besar mungkin mengakibatkan heme tersalurkan entah bagaimana melalui dinding lambung menuju aliran darah. Dengan demikian, vampir hanyalah penderita porfiria yang berupaya menggantikan heme dan meringankan gejala mereka.[147]

Teori ini telah ditolak secara medis karena anggapan bahwa penderita porfiria mendambakan heme dalam darah manusia, atau bahwa konsumsi darah dapat meringankan gejala porfiria, didasarkan pada kesalahpahaman terhadap penyakit tersebut. Lebih lanjut, Dolphin dicatat telah mencampuradukkan vampir fiksi (pengisap darah) dengan vampir dari cerita rakyat, yang banyak di antaranya tidak dicatat meminum darah.[148] Demikian pula, kesejajaran dibuat antara kepekaan penderita terhadap cahaya matahari, tetapi hal ini diasosiasikan dengan vampir fiksi dan bukan vampir cerita rakyat. Bagaimanapun juga, Dolphin tidak melanjutkan publikasi karyanya secara lebih luas.[149] Meskipun ditepis oleh para ahli, kaitan tersebut menarik perhatian media[150] dan masuk ke dalam cerita rakyat modern populer.[151]

Juan Gómez-Alonso, seorang ahli saraf, meneliti kemungkinan kaitan antara penyakit rabies dengan cerita rakyat vampir. Kerentanan terhadap bawang putih dan cahaya bisa jadi disebabkan oleh hipersensitivitas, yang merupakan gejala rabies. Penyakit ini juga dapat memengaruhi bagian otak yang dapat memicu gangguan pola tidur normal (sehingga menjadi nokturnal) dan hiperseksualitas. Legenda pernah menyebutkan bahwa seseorang tidak menderita rabies jika ia bisa melihat bayangannya sendiri (sebuah alusi terhadap legenda bahwa vampir tidak memiliki bayangan cermin). Serigala dan kelelawar, yang sering dikaitkan dengan vampir, dapat menjadi pembawa rabies. Penyakit ini juga dapat memicu dorongan untuk menggigit orang lain dan menyebabkan mulut berbusa serta berdarah.[152][153]

Teori psikodinamika

[sunting | sunting sumber]

Dalam risalahnya tahun 1931 On the Nightmare, psikoanalis asal Wales Ernest Jones menegaskan bahwa vampir adalah simbol dari beberapa dorongan ketidaksadaran dan mekanisme pertahanan. Emosi seperti cinta, rasa bersalah, dan kebencian memicu gagasan mengenai kembalinya orang mati. Menginginkan reuni dengan orang yang dicintai, pelayat mungkin memproyeksikan gagasan bahwa orang yang baru meninggal pasti juga mendambakan hal yang sama. Dari sinilah muncul kepercayaan bahwa vampir dan revenant dalam cerita rakyat mengunjungi kerabat, khususnya pasangan mereka, terlebih dahulu.[154]

Dalam kasus di mana terdapat rasa bersalah bawah sadar yang terkait dengan hubungan tersebut, keinginan untuk reuni mungkin terbelokkan oleh kecemasan. Hal ini dapat mengarah pada represi, yang oleh Sigmund Freud dikaitkan dengan perkembangan ketakutan yang tidak wajar (morbid dread).[155] Jones menduga dalam kasus ini keinginan awal untuk reuni (seksual) mungkin berubah drastis: hasrat digantikan oleh ketakutan; cinta digantikan oleh sadisme, dan objek atau orang yang dicintai digantikan oleh entitas yang tidak dikenal. Aspek seksual mungkin ada atau mungkin tidak.[156] Beberapa kritikus modern telah mengajukan teori yang lebih sederhana: Orang mengidentifikasi diri dengan vampir abadi karena, dengan melakukan itu, mereka mengatasi, atau setidaknya melarikan diri untuk sementara dari, rasa takut akan kematian mereka.[157]

Jones mengaitkan seksualitas bawaan dari tindakan mengisap darah dengan kanibalisme, dengan koneksi cerita rakyat yang menyerupai perilaku incubus. Ia menambahkan bahwa ketika aspek seksualitas yang lebih normal direpresi, bentuk-bentuk yang mengalami regresi dapat diekspresikan, khususnya sadisme; ia merasa bahwa sadisme oral merupakan bagian integral dalam perilaku vampirik.[158]

Tafsir politik

[sunting | sunting sumber]
Lihat keterangan
Kartun politik dari tahun 1885, yang menggambarkan Liga Nasional Irlandia sebagai "Vampir Irlandia" yang memangsa seorang wanita yang sedang tidur

Penemuan kembali mitos vampir di era modern tidak lepas dari nuansa politik.[159] Count Dracula yang aristokrat, yang tinggal sendirian di kastilnya selain dari beberapa pelayan gila, dan hanya muncul di malam hari untuk memangsa kaum taninya, adalah simbol dari ancien régime yang parasit. Dalam entrinya untuk "Vampir" di Dictionnaire philosophique (1764), Voltaire memperhatikan bagaimana pertengahan abad ke-18 bertepatan dengan penurunan kepercayaan cerita rakyat akan keberadaan vampir, tetapi kini "ada pialang saham, makelar, dan pebisnis, yang mengisap darah rakyat di siang bolong; tetapi mereka tidak mati, meskipun korup. Para pengisap sejati ini tidak tinggal di pemakaman, melainkan di istana-istana yang sangat nyaman".[160]

Karl Marx mendefinisikan modal sebagai "tenaga kerja mati yang, layaknya vampir, hanya hidup dengan mengisap tenaga kerja hidup, dan semakin hidup, semakin banyak tenaga kerja yang diisapnya".[d] Werner Herzog, dalam filmnya Nosferatu the Vampyre, memberikan tafsir politik ini sentuhan ironis tambahan ketika protagonis Jonathan Harker, seorang pengacara kelas menengah, menjadi vampir berikutnya; dengan cara ini kaum borjuis kapitalis menjadi kelas parasit berikutnya.[161]

Psikopatologi

[sunting | sunting sumber]

Sejumlah pembunuh telah melakukan ritual yang tampak seperti vampir terhadap korbannya. Pembunuh berantai Peter Kürten dan Richard Trenton Chase keduanya dijuluki "vampir" di tabloid setelah mereka diketahui meminum darah orang-orang yang mereka bunuh. Pada tahun 1932, sebuah kasus pembunuhan yang belum terpecahkan di Stockholm, Swedia, dijuluki "Pembunuhan vampir", dikarenakan keadaan kematian korbannya.[162] Countess Hungaria dan pembunuh massal akhir abad ke-16, Elizabeth Báthory, menjadi terkenal dalam karya-karya abad-abad berikutnya, yang menggambarkannya mandi dalam darah korbannya untuk mempertahankan kecantikan atau kemudaan.[163]

Kelelawar vampir

[sunting | sunting sumber]
Lihat keterangan
Seekor kelelawar vampir di Peru

Meskipun banyak budaya memiliki cerita tentang mereka, kelelawar vampir baru-baru ini menjadi bagian integral dari cerita rakyat vampir tradisional. Kelelawar vampir diintegrasikan ke dalam cerita rakyat vampir setelah mereka ditemukan di daratan Amerika Selatan pada abad ke-16.[164] Tidak ada kelelawar vampir di Eropa, tetapi kelelawar dan burung hantu telah lama dikaitkan dengan supranatural dan pertanda, terutama karena kebiasaan nokturnal mereka.[164][165]

Ketiga spesies kelelawar vampir semuanya endemik di Amerika Latin, dan tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa mereka memiliki kerabat di Dunia Lama dalam ingatan manusia. Oleh karena itu, mustahil bahwa vampir dalam cerita rakyat mewakili presentasi atau ingatan yang terdistorsi mengenai kelelawar vampir. Kelelawar tersebut dinamai berdasarkan vampir cerita rakyat, bukan sebaliknya; Oxford English Dictionary mencatat penggunaan cerita rakyatnya dalam bahasa Inggris sejak 1734 dan penggunaan zoologisnya baru pada 1774. Di luar bahaya infeksi rabies, gigitan kelelawar vampir biasanya tidak berbahaya bagi manusia, tetapi kelelawar ini diketahui secara aktif memangsa manusia dan mangsa besar seperti ternak serta sering meninggalkan ciri khas berupa bekas gigitan dua taring pada kulit korbannya.[164]

Tokoh sastra Dracula berubah menjadi kelelawar beberapa kali dalam novel tersebut, dan kelelawar vampir itu sendiri disebutkan dua kali di dalamnya. Produksi panggung Dracula tahun 1927 mengikuti novelnya dengan menampilkan Dracula yang berubah menjadi kelelawar, demikian pula dalam filmnya, di mana Béla Lugosi bertransformasi menjadi kelelawar.[164] Adegan transformasi kelelawar digunakan lagi oleh Lon Chaney Jr. dalam film tahun 1943 Son of Dracula.[166]

Dalam budaya modern

[sunting | sunting sumber]

Vampir kini menjadi elemen tetap dalam fiksi populer. Fiksi semacam itu dimulai dengan puisi abad ke-18 dan berlanjut dengan cerita pendek abad ke-19, yang pertama dan paling berpengaruh adalah "The Vampyre" (1819) karya John Polidori, yang menampilkan sosok vampir Lord Ruthven.[167] Eksploitasi Lord Ruthven dieksplorasi lebih lanjut dalam serangkaian drama vampir di mana ia menjadi antihero-nya. Tema vampir berlanjut dalam publikasi serial penny dreadful seperti Varney the Vampire (1847) dan memuncak dalam novel vampir paling terkemuka dalam sejarah: Dracula karya Bram Stoker, yang diterbitkan pada tahun 1897.[168]

Seiring berjalannya waktu, beberapa atribut yang kini dianggap integral mulai dimasukkan ke dalam profil vampir: taring dan kerentanan terhadap sinar matahari muncul sepanjang abad ke-19, dengan Varney si Vampir dan Count Dracula sama-sama memiliki gigi yang menonjol,[169] dan Count Orlok dari film Nosferatu (1922) karya Murnau takut akan cahaya siang.[170] Jubah muncul dalam produksi panggung tahun 1920-an, dengan kerah tinggi yang diperkenalkan oleh penulis drama Hamilton Deane untuk membantu Dracula 'menghilang' di atas panggung.[171] Lord Ruthven dan Varney dapat disembuhkan oleh cahaya bulan, meskipun tidak ada catatan mengenai hal ini dalam cerita rakyat tradisional.[172] Walaupun tersirat namun tidak sering didokumentasikan secara eksplisit dalam cerita rakyat, keabadian adalah salah satu atribut yang banyak ditampilkan dalam film dan sastra vampir. Banyak yang menyoroti harga dari kehidupan abadi, yakni kebutuhan tak henti-hentinya akan darah makhluk yang dulunya setara.[173]

Lihat keterangan
Sampul dari salah satu edisi serial asli Varney the Vampire

Vampir atau revenant pertama kali muncul dalam puisi seperti The Vampire (1748) karya Heinrich August Ossenfelder, Lenore (1773) karya Gottfried August Bürger, Die Braut von Corinth (Pengantin dari Korintus) (1797) karya Johann Wolfgang von Goethe, Thalaba the Destroyer (1801) karya Robert Southey, "The Vampyre" (1810) karya John Stagg, "The Spectral Horseman" (1810) ("Bukan vampir yang berteriak dan berlumur darah") dalam Fragmen Anumerta Margaret Nicholson karya Percy Bysshe Shelley dan "Ballad" dalam St. Irvyne (1811) tentang mayat yang dihidupkan kembali, Suster Rosa, Christabel karya Samuel Taylor Coleridge yang belum selesai, dan The Giaour karya Lord Byron.[174]

Byron juga dianggap sebagai pencipta karya fiksi prosa pertama yang berkisah tentang vampir: "The Vampyre" (1819). Karya ini sebenarnya ditulis oleh dokter pribadi Byron, John Polidori, yang mengadaptasi kisah fragmen misterius dari pasiennya yang termasyhur itu, "Fragment of a Novel" (1819), yang juga dikenal sebagai "The Burial: A Fragment".[25][168] Kepribadian Byron yang mendominasi, yang dimediasi oleh kekasihnya Lady Caroline Lamb dalam roman-a-clef yang kurang menyanjung berjudul Glenarvon (sebuah fantasi Gotik berdasarkan kehidupan liar Byron), digunakan sebagai model untuk protagonis mayat hidup Polidori, Lord Ruthven. The Vampyre meraih kesuksesan besar dan menjadi karya vampir yang paling berpengaruh pada awal abad ke-19.[175]

Varney the Vampire adalah cerita horor gotik pertengahan era Victoria yang populer karya James Malcolm Rymer dan Thomas Peckett Prest, yang pertama kali muncul dari tahun 1845 hingga 1847 dalam serangkaian pamflet yang umumnya disebut sebagai penny dreadful karena harganya yang murah dan kontennya yang mengerikan.[167] Diterbitkan dalam bentuk buku pada tahun 1847, cerita ini setebal 868 halaman dua kolom. Karya ini memiliki gaya yang sangat menegangkan, menggunakan pencitraan yang hidup untuk menggambarkan petualangan mengerikan Varney.[172] Tambahan penting lainnya untuk genre ini adalah kisah vampir lesbian karya Sheridan Le Fanu, Carmilla (1871). Seperti Varney sebelumnya, vampir wanita Carmilla digambarkan dalam sudut pandang yang agak simpatik seiring disorotnya kompulsi dari kondisinya.[176]

Seseorang sedang berbaring di tempat tidur sementara orang lain di tempat tidur tersebut menjangkau ke arah mereka.
Carmilla karya Sheridan Le Fanu, diilustrasikan oleh D. H. Friston, 1872

Tidak ada upaya penggambaran vampir dalam fiksi populer yang sebegitu berpengaruh atau definitif seperti Dracula (1897) karya Bram Stoker.[177] Penggambarannya tentang vampirisme sebagai penyakit kerasukan setan yang menular, dengan nuansa seks, darah, dan kematian, sangat relevan di Eropa Victoria di mana tuberkulosis dan sifilis mewabah. Ciri-ciri vampir yang dideskripsikan dalam karya Stoker melebur dengan dan mendominasi tradisi cerita rakyat, yang pada akhirnya berevolusi menjadi vampir fiksi modern.[167]

Dengan mengambil referensi dari karya-karya masa lalu seperti The Vampyre dan Carmilla, Stoker mulai meriset buku barunya pada akhir abad ke-19, membaca karya-karya seperti The Land Beyond the Forest (1888) oleh Emily Gerard dan buku-buku lain tentang Transylvania dan vampir. Di London, seorang kolega menceritakan kepadanya kisah tentang Vlad Țepeș, "Dracula di kehidupan nyata", dan Stoker segera memasukkan kisah ini ke dalam bukunya. Bab pertama buku tersebut dihilangkan ketika diterbitkan pada tahun 1897, tetapi dirilis pada tahun 1914 sebagai "Dracula's Guest".[178]

Bagian akhir abad ke-20 menyaksikan munculnya epos vampir berjilid-jilid serta minat baru terhadap subjek ini dalam buku-buku. Yang pertama adalah seri Barnabas Collins (1966–71) karya penulis romansa Gotik Marilyn Ross, yang secara longgar didasarkan pada seri TV Amerika kontemporer Dark Shadows. Seri ini juga menetapkan tren yang memandang vampir sebagai pahlawan tragis yang puitis alih-alih sebagai perwujudan kejahatan yang lebih tradisional. Formula ini diikuti dalam Vampire Chronicles (1976–2003) karya novelis Anne Rice yang sangat populer,[179] dan seri Twilight (2005–2008) karya Stephenie Meyer.[180] Dalam novel Blindsight karya Peter Watts tahun 2006, vampir digambarkan sebagai subspesies Homo sapiens yang memangsa umat manusia hingga fajar peradaban. Berbagai karakteristik dan kemampuan supranatural yang secara tradisional disematkan pada vampir oleh cerita rakyat dibenarkan berdasarkan landasan naturalistik dan ilmiah.[181]

Film dan televisi

[sunting | sunting sumber]
Count Dracula, sesosok vampir yang bermigrasi dari Transylvania ke Inggris dan memangsa darah korban yang masih hidup, poster Dracula (1931)

Dipandang sebagai salah satu figur paling terkemuka dalam sinema horor klasik, vampir telah terbukti menjadi subjek yang kaya bagi industri film, televisi, dan permainan. Dracula adalah karakter utama dalam lebih banyak film dibandingkan karakter lain mana pun selain Sherlock Holmes, dan banyak film-film awal yang didasarkan pada novel Dracula atau merupakan turunan dekat darinya. Ini termasuk film horor Ekspresionis Jerman bisu tahun 1922 Nosferatu, yang disutradarai oleh F. W. Murnau dan menampilkan penggambaran film pertama Dracula—meskipun nama dan karakternya dimaksudkan untuk meniru Dracula.[182] Film Universal Dracula (1931), yang dibintangi Béla Lugosi sebagai sang Count dan disutradarai oleh Tod Browning, adalah film bersuara pertama yang menggambarkan Dracula. Baik penampilan Lugosi maupun film tersebut secara keseluruhan sangat berpengaruh dalam genre film horor yang sedang berkembang, yang kini mampu menggunakan suara dan efek khusus secara jauh lebih efisien dibandingkan pada Era Film Bisu. Pengaruh film tahun 1931 ini bertahan sepanjang sisa abad ke-20 hingga masa kini. Stephen King, Francis Ford Coppola, Hammer Horror, dan Philip Saville masing-masing pada satu waktu atau lainnya telah mengambil inspirasi dari film ini secara langsung, baik melalui pementasan atau bahkan melalui pengutipan langsung film tersebut, khususnya bagaimana baris kalimat Stoker "Dengarkan mereka. Anak-anak malam. Sungguh indah musik yang mereka buat!" diucapkan oleh Lugosi; sebagai contoh Coppola memberikan penghormatan pada momen ini bersama Gary Oldman dalam interpretasi kisahnya pada tahun 1992 dan King telah berulang kali memuji film ini sebagai inspirasi bagi karakternya Kurt Barlow dalam berbagai wawancara.[183] Atas alasan-alasan inilah film tersebut dipilih oleh Perpustakaan Kongres AS untuk dimasukkan ke dalam Pendaftaran Film Nasional pada tahun 2000.[184]

Legenda vampir berlanjut melalui industri film ketika Dracula direinkarnasi dalam seri film Hammer Horror yang relevan, dibintangi oleh Christopher Lee sebagai sang Count. Film sukses tahun 1958 Dracula yang dibintangi Lee diikuti oleh tujuh sekuel. Lee kembali sebagai Dracula dalam semua film tersebut kecuali dua di antaranya dan menjadi sangat terkenal dalam peran tersebut.[185] Menjelang tahun 1970-an, vampir dalam film telah terdiversifikasi dengan karya-karya seperti Count Yorga, Vampire (1970), seorang Count Afrika dalam film tahun 1972 Blacula, film BBC Count Dracula yang menampilkan aktor Prancis Louis Jourdan sebagai Dracula dan Frank Finlay sebagai Abraham Van Helsing, serta vampir mirip Nosferatu dalam Salem's Lot tahun 1979, dan sebuah pembuatan ulang dari Nosferatu itu sendiri, berjudul Nosferatu the Vampyre bersama Klaus Kinski pada tahun yang sama. Beberapa film menampilkan karakterisasi vampir wanita, sering kali lesbian, seperti The Vampire Lovers (1970) karya Hammer Horror, yang didasarkan pada Carmilla, meskipun alur ceritanya masih berkisar pada karakter vampir jahat sentral.[185]

Sinetron Gotik Dark Shadows, di televisi Amerika dari tahun 1966 hingga 1971, menampilkan karakter vampir Barnabas Collins, yang diperankan oleh Jonathan Frid, yang terbukti turut bertanggung jawab menjadikan seri ini salah satu yang paling populer dari jenisnya, mengumpulkan total 1.225 episode dalam penayangannya selama hampir lima tahun. Pilot untuk seri televisi tahun 1972 Kolchak: The Night Stalker berkisar pada seorang reporter yang memburu vampir di Las Vegas Strip. Film-film selanjutnya menunjukkan keragaman yang lebih besar dalam alur cerita, dengan beberapa berfokus pada pemburu vampir, seperti Blade dalam film-film Blade karya Marvel Comics dan film Buffy the Vampire Slayer.[167] Buffy, yang dirilis pada tahun 1992, meramalkan kehadiran vampirik di televisi, dengan adaptasinya menjadi seri dengan nama yang sama dan sempalan (spin-off)-nya Angel. Karya lain menampilkan vampir sebagai protagonis, seperti film tahun 1983 The Hunger, film tahun 1994 Interview with the Vampire dan sekuel tidak langsungnya Queen of the Damned, serta seri tahun 2007 Moonlight. Film tahun 1992 Bram Stoker's Dracula karya Francis Ford Coppola menjadi film vampir berpendapatan kotor tertinggi yang pernah ada pada saat itu.[186]

Peningkatan minat terhadap alur cerita vampirik ini menyebabkan vampir digambarkan dalam film-film seperti Underworld dan Van Helsing, film Rusia Night Watch dan miniseri TV pembuatan ulang Salem's Lot, keduanya dari tahun 2004. Seri Blood Ties tayang perdana di Lifetime Television pada tahun 2007, menampilkan karakter yang digambarkan sebagai Henry Fitzroy, anak haram Henry-VIII-dari-Inggris yang berubah menjadi vampir, di Toronto masa kini, dengan seorang mantan detektif wanita Toronto sebagai pemeran utamanya. Sebuah seri tahun 2008 dari HBO, berjudul True Blood, memberikan sentuhan Gotik Selatan pada tema vampir, sambil mengangkat diskusi tentang apa makna keberadaan vampir yang sebenarnya bagi, misalnya, persamaan di hadapan hukum dan kepercayaan agama.[180] Pada tahun 2008 Being Human tayang perdana di Britania Raya dan menampilkan seorang vampir yang berbagi tempat tinggal dengan manusia serigala dan hantu.[187][188] Popularitas tema vampir yang berkelanjutan telah dikaitkan dengan kombinasi dua faktor: representasi seksualitas dan ketakutan abadi akan kematian.[189]

Permainan video

[sunting | sunting sumber]

Permainan peran Vampire: The Masquerade telah berpengaruh pada fiksi vampir modern dan elemen terminologinya, seperti embrace dan sire, muncul dalam fiksi kontemporer.[167] Permainan video populer tentang vampir meliputi Castlevania, yang merupakan perpanjangan dari novel asli Dracula karya Bram Stoker, dan Legacy of Kain.[190] Permainan peran Dungeons & Dragons menampilkan sosok vampir.[191]

Subkultur vampir modern

[sunting | sunting sumber]

Gaya hidup vampir merupakan istilah bagi subkultur kontemporer, yang sebagian besar bernaung di bawah subkultur Goth, yang mempraktikkan konsumsi darah orang lain sebagai kegemaran; subkultur ini menyerap kekayaan sejarah budaya populer terkini yang berkaitan dengan simbolisme kultus, film horor, fiksi karya Anne Rice, serta gaya estetika Inggris era Victoria.[192] Vampirisme aktif dalam subkultur ini mencakup vampirisme yang berkaitan dengan darah, yang lazim disebut sebagai vampirisme sanguinis, dan vampirisme psikis, atau dugaan praktik penyerapan energi prana.[193][194]

  1. Vampir telah dibahas sebelumnya dalam bahasa Prancis[21] dan sastra Jerman.[22]
  2. Calmet melakukan penelitian ekstensif dan menghimpun laporan yudisial mengenai insiden vampirik serta meneliti secara mendalam catatan teologis dan mitologis, menggunakan metode ilmiah dalam analisisnya untuk menemukan metode penentuan validitas kasus-kasus semacam ini. Sebagaimana ia nyatakan dalam risalahnya:[104]
    Mereka melihat, konon katanya, orang-orang yang telah meninggal selama beberapa bulan, kembali ke dunia, berbicara, berjalan, menginfestasi desa-desa, menganiaya baik manusia maupun hewan, menghisap darah kerabat dekat mereka, membuat mereka sakit, dan akhirnya menyebabkan kematian mereka; sehingga orang-orang hanya dapat menyelamatkan diri dari kunjungan berbahaya dan gangguan hantu mereka dengan menggali kembali kubur mereka, menyula mereka, memenggal kepala mereka, merobek jantung, atau membakar mereka. Para revenant ini disebut dengan nama oupire atau vampir, yang berarti lintah; dan rincian semacam itu dikaitkan dengan mereka, begitu unik, begitu terperinci, dan disertai dengan keadaan yang begitu memungkinkan serta informasi yudisial semacam itu, sehingga seseorang hampir tidak dapat menolak untuk memercayai kepercayaan yang dipegang di negara-negara tersebut, bahwa para revenant ini keluar dari kubur mereka dan menghasilkan efek-efek yang dinyatakan tentang mereka.
  3. Dalam Kamus Filosofis, Voltaire menulis:[105]
    Vampir-vampir ini adalah mayat, yang keluar dari kubur mereka pada malam hari untuk menghisap darah orang hidup, baik pada leher atau perut mereka, setelah itu mereka kembali ke pemakaman mereka. Orang-orang yang dihisap tersebut menjadi lemah, pucat, dan jatuh sakit tuberkulosis; sementara mayat yang menghisap menjadi gemuk, kemerahan, dan menikmati nafsu makan yang sangat baik. Adalah di Polandia, Hungaria, Silesia, Moravia, Austria, dan Lorraine, orang mati membuat pesta pora ini.
  4. Diskusi ekstensif mengenai berbagai penggunaan metafora vampir dalam tulisan-tulisan Marx dapat ditemukan di Policante, A. (2010). "Vampires of Capital: Gothic Reflections between horror and hope" (PDF). Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 28 January 2012. dalam Cultural Logic Diarsipkan 6 December 2015 di Wayback Machine., 2010.

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. Wilson, Karina (October 23, 2020). "Decomposing Bodies in the 1720s Gave Birth to the First Vampire Panic" [Tubuh yang Membusuk pada Tahun 1720-an Melahirkan Kepanikan Vampir Pertama]. The Smithsonian Magazine. Diakses tanggal 29 October 2024.
  2. Lane, Nick (16 December 2002). "Born to the Purple: the Story of Porphyria" [Terlahir Ungu: Kisah Porfiria]. Scientific American. New York City: Springer Nature. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 26 January 2017. Diakses tanggal 26 January 2017.
  3. Tokarev, Sergei Aleksandrovich (1982). Mify Narodov Mira (dalam bahasa Rusia). Sovetskaya Entsiklopediya: Moscow. OCLC 7576647. ("Mitos Bangsa-Bangsa di Dunia"). Upyr'
  4. 1 2 "Russian Etymological Dictionary by Max Vasmer" [Kamus Etimologi Bahasa Rusia oleh Max Vasmer] (dalam bahasa Rusia). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 4 May 2006. Diakses tanggal 13 June 2006.
  5. Wilson 1985, hlm. 583.
  6. "Deutsches Wörterbuch von Jacob Grimm und Wilhelm Grimm. 16 Bde. (in 32 Teilbänden). Leipzig: S. Hirzel 1854–1960" (dalam bahasa Jerman). Diarsipkan dari asli tanggal 26 September 2007. Diakses tanggal 13 June 2006.
  7. "Vampire". Merriam-Webster Online Dictionary. Diarsipkan dari asli tanggal 14 June 2006. Diakses tanggal 13 June 2006.
  8. "Trésor de la Langue Française informatisé" (dalam bahasa Prancis). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 30 December 2017. Diakses tanggal 13 June 2006.
  9. Рыбаков Б.А. Язычество древних славян / М.: Издательство 'Наука,' 1981 г. (dalam bahasa Rusia). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 26 December 2010. Diakses tanggal 28 February 2007.
  10. Зубов, Н.И. (1998). Загадка Периодизации Славянского Язычества В Древнерусских Списках "Слова Св. Григория ... О Том, Како Первое Погани Суще Языци, Кланялися Идолом ...". Живая Старина (dalam bahasa Rusia). 1 (17): 6–10. Diarsipkan dari asli tanggal 25 February 2007. Diakses tanggal 28 February 2007.
  11. Matthew Bunson: Das Buch der Vampire. Scherz Verlag, hlm. 273 dan seterusnya
  12. Borrmann, Norbert. Vampirismus oder die Sehnsucht nach Unsterblichkeit (dalam bahasa Jerman). Diederichs Verlag. hlm. 13.
  13. 1 2 3 4 Wilson, Katharina M. (1985). "The History of the Word "Vampire"". Journal of the History of Ideas. 46 (4): 577–583. doi:10.2307/2709546. ISSN 0022-5037. JSTOR 2709546.
  14. "vampire". Oxford Reference (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 14 September 2024. Diakses tanggal 2024-09-14.
  15. "vampire". Oxford Learner's Dictionary. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 9 June 2024. Diakses tanggal 14 September 2024.
  16. 1 2 Yaltırık, Mehmet Berk; Sarpkaya, Seçkin (2018). Turkish: Türk Kültüründe Vampirler, English translation: Vampires in Turkic Culture (dalam bahasa Turkish). Karakum Yayınevi. hlm. 43–49. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
  17. 1 2 (dalam bahasa tidak diketahui)Mladenov, Stefan (1941). Etimologičeski i pravopisen rečnik na bǎlgarskiya knižoven ezik.
  18. Husić, Geoff. "A Vampire by Any Other Name". Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 20 August 2022. Diakses tanggal 21 April 2022.
  19. MACHEK, V.: Etymologický slovník jazyka českého, 5th edition, NLN, Praha 2010
  20. Mutch, Deborah, ed. (2013). The Modern Vampire and Human Identity. Palgrave Macmillan. hlm. 3. ISBN 978-1-349-35069-8.
  21. Vermeir, Keir (January 2012). "Vampires as Creatures of the Imagination: Theories of Body, Soul, and Imagination in Early Modern Vampire Tracts (1659–1755)". Dalam Haskell, Y (ed.). Diseases of the Imagination and Imaginary Disease in the Early Modern Period. Tunhout, Belgium: Brepols Publishers. ISBN 978-2-503-52796-3.
  22. 1 2 3 Barber, hlm. 5.
  23. Dauzat, Albert (1938). Dictionnaire étymologique de la langue française (dalam bahasa Prancis). Paris, France: Librairie Larousse. OCLC 904687.
  24. Silver, Alain; Ursini, James (1997). The Vampire Film: From Nosferatu to Interview with the Vampire. New York City: Limelight Editions. hlm. 22–23. ISBN 978-0-87910-395-8.
  25. 1 2 3 4 5 Cohen 1989, hlm. 271–274.
  26. Barber 1988, hlm. 41–42.
  27. 1 2 Barber 1988, hlm. 2.
  28. Calmet, Augustin (2018) [1751]. The Phantom World (dalam bahasa Inggris). BoD – Books on Demand. ISBN 978-3-7340-3275-2.
  29. Barber 1988, hlm. 33.
  30. 1 2 3 Reader's Digest Association (1988). "Vampires Galore!". The Reader's Digest Book of strange stories, amazing facts: stories that are bizarre, unusual, odd, astonishing, incredible ... but true. New York City: Reader's Digest. hlm. 432–433. ISBN 978-0-949819-89-5.
  31. Albanologjike, Gjurmime (1985). Folklor dhe etnologji (dalam bahasa Albania). Vol. 15. hlm. 58–148. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 19 May 2016. Diakses tanggal 12 January 2016.
  32. Barber 1988, hlm. 50–51.
  33. Lawson, John Cuthbert (1910). Modern Greek Folklore and Ancient Greek Religion. Cambridge, England: Cambridge University Press. hlm. 405–406. ISBN 978-0-524-02024-1. OCLC 1465746.
  34. Barber 1988, hlm. 49.
  35. Abbott, George (1903). Macedonian Folklore. Cambridge University Press. hlm. 219.
  36. 1 2 Jaramillo Londoño, Agustín (1986) [1967]. Testamento del paisa [Testament of the paisa] (dalam bahasa Spanyol) (Edisi 7th). Medellín: Susaeta Ediciones. ISBN 978-958-95125-0-0.
  37. Barber 1988, hlm. 68–69.
  38. Barber 1988, hlm. 125.
  39. Barber 1988, hlm. 109.
  40. 1 2 Barber 1988, hlm. 114–115.
  41. Barber 1988, hlm. 96.
  42. Bunson 1993, hlm. 168–169.
  43. Barber 1988, hlm. 6.
  44. 1 2 Burkhardt, Dagmar (1966). "Vampirglaube und Vampirsage auf dem Balkan" [Vampire belief and vampire legend in the Balkans]. Beiträge zur Südosteuropa-Forschung: Anlässlich des I. Internationalen Balkanologenkongresses in Sofia 26. VIII.-1. IX. 1966 (dalam bahasa Jerman). Munich: Rudolf Trofenik. hlm. 221. OCLC 1475919.
  45. Barber 1988, hlm. 63.
  46. Mappin, Jenni (2003). Didjaknow: Truly Amazing & Crazy Facts About ... Everything. Australia: Pancake. hlm. 50. ISBN 978-0-330-40171-5.
  47. 1 2 Spence, Lewis (1960). An Encyclopaedia of Occultism. New Hyde Parks: University Books. ISBN 978-0-486-42613-6. OCLC 3417655.
  48. 1 2 Silver & Ursini 1997, hlm. 25.
  49. Calmet, Augustin (1850). The Phantom World: The History and Philosophy of Spirits, Apparitions, &c., &c. A. Hart. hlm. 273.
  50. Calmet, Augustin (1850). The Phantom World: The History and Philosophy of Spirits, Apparitions, &c., &c. A. Hart. hlm. 265.
  51. Mitchell, Stephen A. (2011). Witchcraft and Magic in the Nordic Middle Ages. University of Pennsylvania Press. hlm. 22–23. ISBN 978-0-8122-4290-4. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 7 March 2022. Diakses tanggal 5 February 2018.
  52. 1 2 Barber 1988, hlm. 73.
  53. Alseikaite-Gimbutiene, Marija (1946). Die Bestattung in Litauen in der vorgeschichtlichen Zeit [Burial in Lithuania in prehistoric times] (Thesis) (dalam bahasa Jerman). Tübingen. OCLC 1059867.
  54. Vukanović, T. P. (1959). "The Vampire". Journal of the Gypsy Lore Society. 38: 111–18.
  55. Klapper, Joseph (1909). "Die schlesischen Geschichten von den schädingenden Toten" [The Silesian stories of the damaging dead]. Mitteilungen der Schlesischen Gesellschaft für Volkskunde (dalam bahasa Jerman). 11: 58–93.
  56. Calmet, Augustin (30 December 2015). Treatise on the Apparitions of Spirits and on Vampires or Revenants: of Hungary, Moravia, et al. The Complete Volumes I & II. 2016. CreateSpace Independent Publishing Platform. hlm. 7. ISBN 978-1-5331-4568-0.
  57. Cheung, Theresa (2013). The Element Encyclopedia of Vampires. HarperCollins. hlm. 35. ISBN 978-0-00-752473-0.
  58. Löwenstimm, A. (1897). Aberglaube und Stafrecht [Superstition and criminal law] (dalam bahasa Jerman). Berlin. hlm. 99.
  59. Bachtold-Staubli, H. (1934–1935). Handwörterbuch des deutschen Aberglaubens [Dictionary of German Superstition] (dalam bahasa Jerman). Berlin.
  60. Filipovic, Milenko (1962). "Die Leichenverbrennung bei den Südslaven" [The cremation of corpses among the South Slavs]. Wiener Völkerkundliche Mitteilungen (dalam bahasa Jerman). 10: 61–71.
  61. Barber 1988, hlm. 158.
  62. Barber 1988, hlm. 157.
  63. 1 2 "'Vampire' skeletons found in Bulgaria near Black Sea". BBC News. 6 June 2012. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 24 April 2018. Diakses tanggal 22 October 2019.
  64. Dilaporkan oleh Ariel David, "Italy dig unearths female 'vampire' in Venice", 13 Maret 2009, Associated Press via Yahoo! News, diarsipkan; juga oleh Reuters, diterbitkan dengan judul utama "Researchers find remains that support medieval 'vampire'" di The Australian, 13 Maret 2009, diarsipkan dengan foto (gulir ke bawah).
  65. Maberry, Jonathan. Vampire Universe: The Dark World of Supernatural Beings that Haunt Us, Hunt Us and Hunger For Us, hlm. 329.
  66. Bunson 1993, hlm. 154.
  67. McNally, Raymond T.; Florescu, Radu (1994). In Search of Dracula. Boston, Massachusetts: Houghton Mifflin. hlm. 117. ISBN 978-0-395-65783-6.
  68. Marigny 1994, hlm. 24–25.
  69. Burton, Sir Richard R. (1893) [1870]. Vikram and The Vampire: Classic Hindu Tales of Adventure, Magic, and Romance. London: Tylston and Edwards. ISBN 978-0-89281-475-6. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 7 November 2011. Diakses tanggal 28 September 2007.
  70. Bunson 1993, hlm. 200.
  71. Marigny 1994, hlm. 14.
  72. 1 2 Hurwitz, Siegmund (1992) [1980]. Lilith, the First Eve: Historical and Psychological Aspects of the Dark Feminine. Gela Jacobson (trans.). Einsiedeln, Switzerland: Daimon Verlag. hlm. 39–51. ISBN 978-3-85630-522-2.
  73. Melton, J. Gordon (2010). The Vampire Book: The encyclopedia of the Undead. Visible Ink Press. hlm. 239–240. ISBN 978-1-57859-350-7.
  74. 1 2 Graves 1990, hlm. 189–190.
  75. 1 2 Graves 1990, hlm. 205–206.
  76. "Philostr Vit. Apoll. iv. 25; Suid. s. v." Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 27 October 2020. Diakses tanggal 24 October 2020.
  77. Oliphant, Samuel Grant (1913). "The Story of the Strix: Ancient". Transactions and Proceedings of the American Philological Association. 44: 133–49. doi:10.2307/282549. ISSN 0065-9711. JSTOR 282549.
  78. "Ubır: A Vampire-Like Creature in Turkic Mythology and Folk Beliefs". ULUKAYIN English (dalam bahasa American English). 2023-08-25. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 26 January 2024. Diakses tanggal 2024-01-26.
  79. 1 2 Regina Hansen (3 May 2011). Roman Catholicism in Fantastic Film: Essays on Belief, Spectacle, Ritual and Imagery (dalam bahasa English). McFarland & Company. ISBN 978-0786464746. After the arrival of Christianity in Greece, however, the vampire began to take on decidedly Christian characteristics. The vampire was now no longer a demon from a supernatural realm but a reanimated corpse, a dead person who retained a semblance of life and could leave its grave-much in the same way that Jesus had arisen after His death and burial and appeared before His followers. The transformation of vampire myths to include Christian elements happened throughout Europe; as various regions converted to Christianity, their vampires also became "Christianized" (Beresford 42, 44–51). Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
  80. S. T. Joshi= (4 November 2010). Encyclopædia of the Vampire: The Living Dead in Myth, Legend, and Popular Culture (dalam bahasa English). ABC-CLIO. ISBN 978-0313378331. The church had by this time co-opted vampires from their previous folk existence and reinterpreted them as minions of the Christian devil, so it was an easy enough analogy to draw: Just as a vampire takes a sinner's very spirit into itself by drinking his blood, so also can a righteous Christian by drinking Christ's blood take the divine spirit into himself. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
  81. Regina Hansen (3 May 2011). Roman Catholicism in Fantastic Film: Essays on Belief, Spectacle, Ritual and Imagery (dalam bahasa English). McFarland & Company. ISBN 978-0786464746. Perhaps the strongest link between vampires and Christianity is the importance of blood in the Christian, especially the Roman Catholic, tradition. Just as the vampire must consume blood in order to continue its unnaturally eternal life, so Christians must consume the blood of Jesus to be granted salvation and life after death. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
  82. Mariah Larsson, Ann Steiner (1 December 2011). Interdisciplinary Approaches to Twilight: Studies in Fiction, Media and a Contemporary Cultural Experience (dalam bahasa English). Nordic Academic Press. ISBN 978-9185509638. The fear of vampirism embodied in these early conceptions was used by the Church in order to impose its fundamental values on soviety. The Church therefore changed some of the typical vampire traits and gave them more religious connotations that are still very much in evidence in the vampire genre today. For example, the destruction of the vampire became a religious rite; crucifixes and holy water bestowed protection; and drinking the blood of a sinner strengthened the power of the Devil, while taking Communion afforded the communicant protection. Besides their roots in folklore and the influence of Christianity, vampire traits were shaped in the development of vampire literature. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
  83. Gregory Stevenson (2003). Televised Morality: The Case of Buffy the Vampire Slayer (dalam bahasa English). University Press of America. ISBN 0761828338. If so, then the ability of the cross to hurt and ward off vampires is distinctly due to its Christian association. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
  84. James Craig Holte (1997). Dracula in the Dark: The Dracula Film Adaptations (dalam bahasa English). Greenwood Publishing Group. ISBN 0313292159. Christian belief played an important part in the development of vampire lore. According to Montague Summers, who describes the Christian position in detail in The Vampire: His Kith and Kin, Christianity accepts the existence of vampires and sees the power of the devil behind their creation. Since vampires are servants of Satan, the Church has power over them. Thus vampires flee from and can be destroyed by the crucifix, relics of saints, the sign of the cross, holy water, and above all, a consecrated host. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
  85. William of Newburgh; Paul Halsall (2000). "Book 5, Chapter 22–24". Historia rerum Anglicarum. Fordham University. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 19 February 2014. Diakses tanggal 16 October 2007.
  86. Jones 1931, hlm. 121.
  87. Jakobsson, Ármann (2009). "The Fearless Vampire Killers: A Note about the Icelandic Draugr and Demonic Contamination in Grettis Saga". Folklore (120): 309.
  88. Epstein, Saul; Robinson, Sara Libby (2012). "The Soul, Evil Spirits, and the Undead: Vampires, Death, and Burial in Jewish Folklore and Law". Preternature: Critical and Historical Studies on the Preternatural. 1 (2): 232–51. doi:10.5325/preternature.1.2.0232. ISSN 2161-2188.
  89. Melton, J. Gordon (2010). The Vampire Book: The encyclopedia of the Undead. Visible Ink Press. hlm. 9–10. ISBN 978-1-57859-350-7.
  90. 1 2 3 Barber 1988, hlm. 5–9.
  91. Bohn, Thomas M. (2019). The Vampire: Origins of a European Myth. Cologne: Berghahn Books. hlm. 47–49. ISBN 978-1-78920-293-9.
  92. 1 2 Marigny, Jean (1993). Sang pour Sang, Le Réveil des Vampires, Gallimard, coll. Gallimard. hlm. 50–52. ISBN 978-2-07-053203-2.
  93. Calmet, Augustin (1751). Treatise on the Apparitions of Spirits and on Vampires or Revenants: of Hungary, Moravia, et al. The Complete Volumes I & II. 2015. CreateSpace Independent Publishing Platform. hlm. 442–443. ISBN 978-1-5331-4568-0.
  94. Lecouteux, Claude (1993). Historie des vampires: Autopsie d'un mythe. Paris: Imago. hlm. 9–10. ISBN 978-2-911416-29-3.
  95. Endsjø, Dag Øistein (2023). Flesh and Bones Forever: A History of Immortality. Hannacroix: Apocryphile Press. hlm. 178–179. ISBN 978-1-958061-36-7.
  96. Felix J. Oinas 1978. "Heretics as vampires and demons in Russia" in The Slavic and East European Journal 22:4 (1978):433
  97. Lambertini, P. (1749). "XXXI". De servorum Dei beatificatione et sanctorum canonizatione. Vol. Pars prima. hlm. 323–24.
  98. de Ceglia F.P. (2011). "The Archbishop's Vampires. Giuseppe Davanzati's Dissertation and the Reaction of Scientific Italian Catholicism to the Moravian Events". Archives Internationales d'Histoire des Sciences. 61 (166/167): 487–510. doi:10.1484/J.ARIHS.5.101493.
  99. Jøn, A. Asbjørn (2003). "Vampire Evolution". METAphor (3): 20. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 12 January 2021. Diakses tanggal 20 November 2015.
  100. 1 2 Barber 1988, hlm. 15–21.
  101. 1 2 3 4 Hoyt 1984, hlm. 101-106.
  102. J. Gordon Melton (1994). "Vampire". The Vampire Book. Visible Ink Press. hlm. 630. the vampire controversy of the 1730s [p.467] ... the eighteenth-century vampire controversy [p. 630]
  103. Christopher Frayling; Robert Wokler (1982). "From the orang-utan to the vampire: towards an anthropology of Rousseau". Dalam R. A. Leigh (ed.). Rousseau after two hundred years (Proceedings of the Cambridge Bicentennial Colloqium). Bristol: Cambridge University Press. hlm. 122. For details of the sixteen formal treatises and dissertations that discussed the implications of the 1731–32 'epidemic' (most of them written by German doctors and theologians), see Tony Faivre, Les Vampires (Paris, 1962), pp. 154–9; Dieter Sturm and Klaus Völker, Von denen Vampiren oder Menschensaugern (München, 1973), pp. 519–23; and Frayling's introduction to The Vampyre (London, 1978), pp. 31–4.
  104. Calmet, Augustin (1751). Treatise on the Apparitions of Spirits and on Vampires or Revenants: of Hungary, Moravia, et al. The Complete Volumes I & II. Translated by Rev Henry Christmas & Brett Warren. 2015. CreateSpace Independent Publishing Platform. hlm. 303–304. ISBN 978-1-5331-4568-0.
  105. Voltaire (1984) [1764]. Philosophical Dictionary. Penguin. ISBN 978-0-14-044257-1.
  106. Atwater, Cheryl (2000). "Living in Death: The Evolution of Modern Vampirism". Anthropology of Consciousness. 11 (1–2): 70–77. doi:10.1525/ac.2000.11.1-2.70.
  107. Bunson 1993, hlm. 11.
  108. Bunson 1993, hlm. 2.
  109. Bunson 1993, hlm. 219.
  110. White, Luise (31 December 2000). Speaking with Vampires. University of California Press. doi:10.1525/9780520922297. ISBN 978-0-520-92229-7. S2CID 258526552. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 15 July 2021. Diakses tanggal 15 December 2020.
  111. Bunson 1993, hlm. 162–163.
  112. Martinez Vilches, Oscar (1992). Chiloe Misterioso: Turismo, Mitologia Chilota, leyendas (dalam bahasa Spanyol). Chile: Ediciones de la Voz de Chiloe. hlm. 179. OCLC 33852127.
  113. 1 2 Sledzik, Paul S.; Nicholas Bellantoni (1994). "Bioarcheological and biocultural evidence for the New England vampire folk belief". American Journal of Physical Anthropology. 94 (2): 269–274. Bibcode:1994AJPA...94..269S. doi:10.1002/ajpa.1330940210. PMID 8085617.
  114. Bell, Michael E. (2006). "Vampires and Death in New England, 1784 to 1892". Anthropology and Humanism. 31 (2): 124–40. doi:10.1525/ahu.2006.31.2.124.
  115. Henfield, Sally (21 May 2009). "The 'Peruvian vampire' – from East Lancashire". Lancashire Telegraph. Diakses tanggal 3 October 2024.
  116. Bunson 1993, hlm. 137–138.
  117. Hearn, Lafcadio (1903). Kwaidan: Stories and Studies of Strange Things. Boston: Houghton, Mifflin and Company. ISBN 978-0-585-15043-7.
  118. 1 2 Ramos, Maximo D. (1990) [1971]. Creatures of Philippine Lower Mythology. Quezon: Phoenix Publishing. ISBN 978-971-06-0691-7.
  119. Bunson 1993, hlm. 197.
  120. Hoyt 1984, hlm. 34.
  121. Stephen, Michele (1999). "Witchcraft, Grief, and the Ambivalence of Emotions". American Ethnologist. 26 (3): 711–737. doi:10.1525/ae.1999.26.3.711.
  122. Bunson 1993, hlm. 208.
  123. Bunson 1993, hlm. 150.
  124. Hoyt 1984, hlm. 35.
  125. Lê Quý Đôn (2007). Kiến văn tiểu lục. NXB Văn hóa-Thông tin. hlm. 353.
  126. Trương Quốc Dụng (2020). Thoái thực ký văn. Writers' Association Publishing House.
  127. Suckling, Nigel (2006). Vampires. London: Facts, Figures & Fun. hlm. 31. ISBN 978-1-904332-48-0.
  128. 劉, 天賜 (2008). 僵屍與吸血鬼. Hong Kong: Joint Publishing (H.K.). hlm. 196. ISBN 978-962-04-2735-0.
  129. de Groot, J.J.M. (1910). The Religious System of China. E.J. Brill. OCLC 7022203.
  130. Lam, Stephanie (2009). "Hop on Pop: Jiangshi Films in a Transnational Context". CineAction (78): 46–51.
  131. Hudson, Dave (2009). Draculas, Vampires, and Other Undead Forms. Rowman & Littlefield. hlm. 215. ISBN 978-0-8108-6923-3.
  132. Tenthani, Raphael (23 December 2002). "'Vampires' strike Malawi villages". BBC News. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 18 August 2010. Diakses tanggal 29 December 2007.
  133. "Mobs in Malawi have killed six people for being "vampires"". VICE News (dalam bahasa Inggris). 19 October 2017. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2 January 2018. Diakses tanggal 2 January 2018.
  134. Manchester, Sean (1991). The Highgate Vampire: The Infernal World of the Undead Unearthed at London's Highgate Cemetery and Environs. London: Gothic Press. ISBN 978-1-872486-01-7.
  135. Jeffries, Stuart (18 January 2005). "Reality Bites". The Guardian. London. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 15 July 2021. Diakses tanggal 29 December 2007.
  136. Stephen Wagner. "On the trail of the Chupacabras". Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 19 September 2005. Diakses tanggal 5 October 2007.
  137. Taylor, T. (28 October 2007). "The real vampire slayers". The Independent. London. Diarsipkan dari asli tanggal 19 December 2007. Diakses tanggal 14 December 2007.
  138. 1 2 Barber 1988, hlm. 1–4.
  139. Barber, Paul (March–April 1996). "Staking Claims: The Vampires of Folklore and Fiction". Skeptical Inquirer. 20 (2). Diarsipkan dari asli tanggal 1 July 2015. Diakses tanggal 29 June 2015.
  140. Barber 1988, hlm. 117.
  141. Barber 1988, hlm. 105.
  142. 1 2 Barber 1988, hlm. 119.
  143. Marigny 1994, hlm. 48–49.
  144. Barber 1988, hlm. 128.
  145. Barber 1988, hlm. 137–138.
  146. Barber 1988, hlm. 115.
  147. Cox, Ann M. (1995). "Porphyria and vampirism: another myth in the making" [Porfiria dan vampirisme: mitos lain dalam pembuatannya]. Postgraduate Medical Journal. 71 (841): 643–644. doi:10.1136/pgmj.71.841.643-a. PMC 2398345. PMID 7494765. S2CID 29495879.
  148. Barber 1988, hlm. 100.
  149. Adams, Cecil (7 May 1999). "Did vampires suffer from the disease porphyria—or not?" [Apakah vampir menderita penyakit porfiria—atau tidak?]. The Straight Dope. Chicago Reader. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 20 July 2008. Diakses tanggal 25 December 2007.
  150. Pierach, Claus A. (13 June 1985). "Vampire Label Unfair To Porphyria Sufferers" [Label Vampir Tidak Adil Bagi Penderita Porfiria]. The New York Times. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 21 April 2008. Diakses tanggal 25 December 2007.
  151. Kujtan, Peter W. (29 October 2005). "Porphyria: The Vampire Disease" [Porfiria: Penyakit Vampir]. The Mississauga News online. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 24 November 2020. Diakses tanggal 9 November 2009.
  152. Gómez-Alonso, Juan (1998). "Rabies: a possible explanation for the vampire legend" [Rabies: penjelasan yang mungkin untuk legenda vampir]. Neurology. 51 (3): 856–59. doi:10.1212/WNL.51.3.856. PMID 9748039. S2CID 219202098.
  153. "Rabies-The Vampire's Kiss" [Rabies-Ciuman Vampir]. BBC News. 24 September 1998. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 17 March 2006. Diakses tanggal 18 March 2007.
  154. Jones 1931, hlm. 100–102.
  155. Jones, Ernest (1911). "The Pathology of Morbid Anxiety". Journal of Abnormal Psychology. 6 (2): 81–106. doi:10.1037/h0074306. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 3 October 2020. Diakses tanggal 5 July 2019.
  156. Jones 1931, hlm. 106.
  157. McMahon, Twilight of an Idol, p. 193 Diarsipkan 2 February 2017 di Wayback Machine.
  158. Jones 1931, hlm. 116–120.
  159. Glover, David (1996). Vampires, Mummies, and Liberals: Bram Stoker and the Politics of Popular Fiction. Durham, NC.: Duke University Press. ISBN 978-0-8223-1798-2.
  160. "Vampires. – Voltaire, The Works of Voltaire, Vol. VII (Philosophical Dictionary Part 5) (1764)". Diarsipkan dari asli tanggal 18 March 2017. Diakses tanggal 11 June 2019.
  161. Brass, Tom (2000). "Nymphs, Shepherds, and Vampires: The Agrarian Myth on Film". Dialectical Anthropology. 25 (3/4): 205–237. doi:10.1023/A:1011615201664. S2CID 141136948.
  162. Linnell, Stig (1993) [1968]. Stockholms spökhus och andra ruskiga ställen (dalam bahasa Swedia). Raben Prisma. ISBN 978-91-518-2738-4.
  163. Hoyt 1984, hlm. 68–71.
  164. 1 2 3 4 Cohen 1989, hlm. 95–96.
  165. Cooper, J.C. (1992). Symbolic and Mythological Animals. London: Aquarian Press. hlm. 25–26. ISBN 978-1-85538-118-6.
  166. Skal 1996, hlm. 19–21.
  167. 1 2 3 4 5 Jøn, A. Asbjørn (2001). "From Nosteratu to Von Carstein: shifts in the portrayal of vampires". Australian Folklore: A Yearly Journal of Folklore Studies (16): 97–106. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 25 November 2015. Diakses tanggal 1 November 2015.
  168. 1 2 Frayling, Christopher (1991). Vampyres, Lord Byron to Count Dracula. London: Faber. ISBN 978-0-571-16792-0.
  169. Skal 1996, hlm. 99.
  170. Skal 1996, hlm. 104.
  171. Skal 1996, hlm. 62.
  172. 1 2 Silver & Ursini 1997, hlm. 38–39.
  173. Bunson 1993, hlm. 131.
  174. Marigny 1994, hlm. 114–115.
  175. Silver & Ursini 1997, hlm. 37–38.
  176. Silver & Ursini 1997, hlm. 40–41.
  177. Silver & Ursini 1997, hlm. 43.
  178. Marigny 1994, hlm. 82–85.
  179. Silver & Ursini 1997, hlm. 205.
  180. 1 2 Beam, Christopher (20 November 2008). "I Vant To Upend Your Expectations: Why film vampires always break all the vampire rules". Slate Magazine. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 16 September 2011. Diakses tanggal 17 July 2009.
  181. Galaxy, Geek's Guide to the. "'Blindsight' Is the Epitome of Science Fiction Horror". Wired (dalam bahasa American English). ISSN 1059-1028. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 30 June 2024. Diakses tanggal 2024-06-30.
  182. Keatley, Avery. "Try as she might, Bram Stoker's widow couldn't kill 'Nosferatu'". NPR (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 4 April 2022. Diakses tanggal 20 April 2022.
  183. Eisenberg, Eric (12 May 2021). "Adapting Stephen King's Salem's Lot: How Does The Vampiric Terror Of 1979's TV Miniseries Hold Up?". Cinemablend. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 27 April 2022. Diakses tanggal 5 May 2022.
  184. "Complete National Film Registry Listing". Library of Congress. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 28 July 2019. Diakses tanggal 20 April 2022.
  185. 1 2 Marigny 1994, hlm. 92–95.
  186. Silver & Ursini 1997, hlm. 208.
  187. Germania, Monica (2012): Being Human? Twenty-First-Century Monsters. In: Edwards, Justin & Monnet, Agnieszka Soltysik (Publisher): The Gothic in Contemporary Literature and Popular Culture: Pop Goth. New York: Taylor, pp. 57–70
  188. Dan Martin (19 June 2014). "Top-10 most important vampire programs in TV history". Cleveland.com. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 21 October 2018. Diakses tanggal 8 August 2014.
  189. Bartlett, Wayne; Idriceanu, Flavia (2005). Legends of Blood: The Vampire in History and Myth. London: NPI Media Group. hlm. 46. ISBN 978-0-7509-3736-8.
  190. Joshi, S. T. (2007). Icons of horror and the supernatural. Vol. 2. Westport, Connecticut: Greenwood Publishing Group. hlm. 645–646. ISBN 978-0-313-33782-6. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 25 February 2021. Diakses tanggal 30 October 2020.
  191. Grebey, James (3 June 2019). "How Dungeons and Dragons reimagines and customizes iconic folklore monsters". SyfyWire. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 22 March 2020. Diakses tanggal 22 March 2020.
  192. Skal, David J. (1993). The Monster Show: A Cultural History of Horror. New York: Penguin. hlm. 342–343. ISBN 978-0-14-024002-3.
  193. Jøn, A. Asbjørn (2002). "The Psychic Vampire and Vampyre Subculture". Australian Folklore: A Yearly Journal of Folklore Studies (12): 143–148. ISSN 0819-0852. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 15 July 2021. Diakses tanggal 9 November 2015.
  194. Benecke, Mark; Fischer, Ines (2015). Vampyres among us! – Volume III: Quantitative Study of Central European 'Vampyre' Subculture Members. Roter Drache. ISBN 978-3-939459-95-8. Diarsipkan dari asli tanggal 10 July 2017. Diakses tanggal 2 February 2016.

Teks yang dikutip

[sunting | sunting sumber]

Pranala luar

[sunting | sunting sumber]